Sang Penjaga Kaset: Kisah Priyo dan Museum Mini yang Masih Bernapas di Beringharjo

- Selasa, 16 Desember 2025 | 14:48 WIB
Sang Penjaga Kaset: Kisah Priyo dan Museum Mini yang Masih Bernapas di Beringharjo

Meski kini sepi, bisnis kasetnya dulu cukup gemilang. Hasil berjualan itu bahkan sanggup membiayai pendidikan tiga anaknya hingga ke bangku perguruan tinggi.

Tapi zaman keemasan itu jelas sudah berlalu.

"Sekarang nggak bisa buat cari duit kaya dulu. Untuk makan sendiri aja kadang kurang," aku Priyo.

Kini, baginya, berjualan kaset lebih seperti pengisi kekosongan di masa tua. "Buat hiburan saja," tuturnya.

Di sisi lain, yang membuatnya tetap bertahan adalah para kolektor. Mereka masih rutin datang, bahkan dari jauh. Tentu ada tantangannya sendiri.

"Yang cari biasanya kolektor. Lagunya yang dicari yang "angel-angel"," cerita Priyo.

Di lapaknya, Anda tak akan menemukan lagu baru dalam bentuk kaset. Semuanya lawas. Kolektor sering memburu album band-band rock legendaris.

Mereka datang dari berbagai penjuru: Bandung, Jakarta, Surabaya, Kalimantan. Bahkan ada yang dari Malaysia. Kabar tentang lapak Priyo menyebar dari mulut ke mulut.

"Tapi "golekane", yang dicari yang susah-susah," jelasnya.

Untuk memenuhi permintaan langganannya, Priyo juga aktif berburu. Ia menyambangi Pasar Kliwon hingga Klithikan, mencari stok kaset bekas yang masih bagus. Perburuan ini penting agar koleksinya tetap beragam.

"Kaya Beatles itu carinya susah. Kalau campursari masih gampang. Tapi rock-rockan agak susah," katanya.

Beberapa pelanggan setia bahkan menitip pesanan khusus. Priyo diminta mencari album band tertentu yang langka.

"Ada yang tiga atau lima tahun sekali baru ke sini," ujarnya.

Ia pernah kebingunan sendiri mendengar permintaan seorang pelanggan yang terdengar sangat tidak biasa. Ternyata, setelah dicari, album yang dimaksud justru ada di tumpukan kasetnya.

Band seperti Beatles, Rolling Stones, hingga Queen tetap yang paling sering diburu. Harganya bervariasi. Untuk kaset biasa, Rp 20-25 ribu. Yang benar-benar langka bisa mencapai Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Dan kolektor sering menjualnya lagi dengan harga lebih tinggi.

Priyo merapikan kaset-kaset di mejanya. "Barangnya ini rutin saya bersihkan. Siap putar," katanya, menutup percakapan dengan bangga. Di gang kecil Beringharjo itu, dunianya masih berputar, meski pelan.


Halaman:

Komentar