Lalu, bagaimana sistem shift yang ideal? Shift pagi, mulai pukul 8 atau 9, adalah domain Akuntan. Tugasnya mengecek pembelian dan kualitas bahan baku, dibantu relawan. Mereka juga mengawasi pencucian wadah (ompreng) yang kembali dari sekolah dan menyimpan bahan dengan baik.
Giliran berikutnya beralih ke Ahli Gizi di sore hingga malam. Setelah serah terima dari Akuntan sekitar pukul 4 atau 5 sore, Ahli Gizi mengambil alih. Ia memastikan bahan sesuai rencana menu, memantau proses pencucian dan pemotongan, hingga mempersiapkan semuanya untuk dimasak. Kerja ini bisa berlanjut hingga pukul 1 atau 2 dini hari.
Nah, di sinilah peran krusial Kepala SPPG dimulai. Ia mulai bekerja di tengah malam, tepat setelah menerima laporan dari Ahli Gizi. Di dapur MBG, ia memegang kendali penuh atas proses memasak dan distribusi. Ia harus memastikan makanan dimasak dengan benar, benar-benar matang, lalu dibagi dan dikirim dengan tepat.
Namun begitu, tugasnya belum selesai. Saat distribusi berlangsung, Kepala SPPG juga harus turun langsung. Memantau pengiriman ke sekolah-sekolah dan Posyandu, memastikan makanan sampai untuk ibu hamil, menyusui, dan balita. Ia dituntut tanggap jika ada masalah dan selalu berkoordinasi dengan pimpinan wilayah setempat.
Intinya, peran Kepala SPPG adalah ujung tombak. Dari mengatur tim di belakang layar hingga memastikan manfaat program benar-benar terasa di lapangan.
Artikel Terkait
Gatot Nurmantyo Soroti Tiga Langkah Polri yang Dinilai Membangkang
Demokrasi Tanpa Oposisi: Stabilitas atau Kekosongan Makna di Era Prabowo?
Mekanisme Ajaib dalam Tubuh: 10.000 Kerusakan DNA Diperbaiki Setiap Hari
31 Januari: Dari Lahirnya NU hingga Misi Antariksa Simpanse Ham