ungkapnya.
Ditambah cuaca ekstrem di bulan Desember yang dikenal sebagai musim berat, beban itu makin terasa. Situasi jadi makin memprihatinkan ketika dalam sebuah pertemuan dengan pimpinan tertinggi negara, persoalan ini disebut sekadar urusan daerah. “Jadi seperti orang yang dibiarkan sendiri,” keluhnya.
Padahal, sejarah punya pelajaran berharga. Saat tsunami 2004, dua pimpinan tertinggi negara datang langsung ke Aceh. Mereka bukan cuma seremonial. Mereka memimpin operasi, bermalam berhari-hari di lokasi, dan memerintahkan menteri terkait untuk tidak balik ke Jakarta.
“Waktu itu Pak Alwi Shihab sebagai Menko Kesra diminta berkantor di Aceh untuk memimpin tanggap darurat, dan berbulan-bulan tidak pulang-pulang,”
kenang Sudirman.
Nah, semangat kepemimpinan dan kehadiran negara seperti itulah yang ia harapkan kembali hadir sekarang. Agar Aceh, dan Mualem di dalamnya, tidak merasa sendiri melawan bencana.
Artikel Terkait
Sporting CP Balas Kekalahan 0-3 dengan Kemenangan Telak 5-0 ke Perempat Final Liga Champions
Fenerbahce Hajar Gaziantep 4-1, Kokohkan Posisi Puncak Klasemen
Jadwal Imsak Jogja Hari Ini Pukul 04.18 WIB, Disusul Azan Subuh 10 Menit Kemudian
Chelsea Terancam Tersingkir, Wajib Menang Besar atas PSG di Liga Champions