Demi Golden Ticket, Siswi Palembang Tempuh Ribuan Kilometer ke Olimpiade Unair

- Senin, 15 Desember 2025 | 07:06 WIB
Demi Golden Ticket, Siswi Palembang Tempuh Ribuan Kilometer ke Olimpiade Unair

Dari Palembang, N. Azza Fathya Nadra terbang ke Surabaya demi satu tujuan: mengikuti Olimpiade Sains Airlangga 2025. Siswi SMA Kusuma Bangsa ini tak gentar dengan jarak ribuan kilometer. Baginya, ini adalah langkah nyata mengejar impian kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

Fathya adalah satu-satunya perwakilan dari sekolahnya di ajang bergengsi itu. Ia melihat OSA sebagai peluang emas, sebuah pintu masuk lewat jalur prestasi ke perguruan tinggi idaman.

“Target saya mengikuti OSA karena ingin mencoba jalur golden ticket. Saya memang ingin masuk Fakultas Kedokteran (FK) Unair,” ujarnya pada 14 Desember.

“Sekarang rencananya ingin mencoba jalur golden ticket Unair terlebih dahulu. Kebetulan ada kakak kelas yang kuliah di Unair, itu menjadi motivasi saya juga,” tambahnya.

Ketertarikan pada Unair sebenarnya sudah mengakar sejak dia duduk di kelas 11. Saat liburan, Fathya mulai menyelami berbagai skema masuk perguruan tinggi, khususnya untuk fakultas kedokteran. Dari situlah, keinginannya untuk kuliah di Unair makin kuat dan jelas.

Perjalanan jauh itu ditempuhnya bersama sang ibu. Padatnya agenda sekolah nyaris tak menyisakan waktu, tapi bagi Fathya, itu bukan halangan. Persiapan menuju dunia kedokteran sudah ia mulai sejak lama, dengan mengikuti berbagai lomba biologi dan kompetisi sejenis. Pernah juga ikut lomba beregu, sayangnya terkendala jarak sehingga tidak bisa dilanjutkan.

Memang, persiapannya kali ini cukup terburu-buru.

“Tantangan selama persiapan karena OSA dilaksanakan di tengah bulan Desember, sementara sebelumnya ada ujian akhir semester, jadi waktu belajarnya tidak terlalu panjang,” jelasnya.

Ini adalah pengalaman pertamanya sekaligus yang terakhir. Dia sudah tahu tentang OSA tahun lalu, tapi merasa belum siap. “Sekarang sudah kelas 12,” katanya, menyadari momen ini sangat berarti.

Soal pelaksanaan, Fathya menilai panitia sangat ketat. Peserta dilarang membawa barang apapun, semua alat tulis disediakan. Tingkat kesulitan soalnya pun menantang, mencakup materi dari kelas 10 hingga 12.

“Tantangan paling terasa waktu mengerjakan soal, terutama Matematika. Tapi insyaallah saya optimis bisa mendapatkan hasil terbaik,” ucapnya penuh keyakinan.

Harapannya sederhana tapi penuh bekal usaha: hasil maksimal dan tiket emas ke FK Unair. “Semoga bisa mendapatkan hasil terbaik, dan insyaallah bisa mendapatkan golden ticket,” harap Fathya.

OSA sendiri memang ajang bergengsi. Tahun ini diikuti oleh 6.206 peserta yang tersebar dari 23 provinsi, bahkan sampai dari Kuala Lumpur, Malaysia. Antusiasme luar biasa, terlihat dari rombongan siswa Jawa Timur yang datang menggunakan bus.

Melalui olimpiade ini, Unair berkomitmen membuka akses setara bagi pelajar dari mana saja. Bagi anak-anak seperti Fathya dari Palembang, ini lebih dari sekadar lomba. Ini adalah sebuah kesempatan.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar