Rancagoong, ketika malam semakin menua
Bagaimana kabarmu hari ini? Mungkin pertanyaan itu terdengar klise. Tapi jujur saja, aku kehabisan cara lain untuk memulai percakapan. Otakku macet, tak ada lagi stok basa-basi yang layak untuk menyapamu. Padahal, aku selalu berharap bisa menanyakan hari-harimu dengan cara yang berbeda.
Aku paham. Kau pasti sudah muak. Setiap malam, notifikasi WhatsApp-mu selalu kedatangan pesan yang itu-itu lagi dariku. Template yang sama, kata-kata yang nyaris tak berubah.
Tapi sekarang? Semuanya cuma tinggal kenangan. Jalur kita sudah tidak searah lagi.
Kau tak akan menyadarinya. Tadi siang, usai makan di warteg belakang kampus, aku memandangimu dari jauh. Kau duduk di sudut Mokopi, menghabiskan sisa waktu istirahat dengan segelas matcha di tangan.
Entah sejak kapan kau jatuh hati pada minuman itu. Yang kuingat jelas, dulu kau sangat membenci segala sesuatu yang manis.
"Aku sudah terlalu manis, buat apa menambah yang manis-manis."
Itu candamu. Garing, menurutku. Tapi selalu berhasil memaksaku tersenyum, sekadar untuk menghargai usahamu.
Malam ini dan entah sudah berapa malam sebelumnya aku seperti dikunjungi insomnia. Menjelang tengah malam begini, pikiran masih berkeliaran ke hal-hal yang tak penting. Dan tentu saja, kau selalu ada di sana.
Aku rebahan di lantai, dekat meja kecil tempat buku-bukuku berserakan. Ada pulpen biru terselip di antara tumpukan kertas. Pemberianmu setahun lalu, yang tak pernah kugunakan.
Lucu, ya? Padahal aku suka sekali mencoret-coret buku saat membaca. Mungkin, di lubuk hati, aku tahu ini hadiah terakhirmu. Terlalu berharga untuk berakhir jadi sampah.
"Lumayan buat kau gunakan menulis catatan kecil hasil bacaanmu."
Begitu katamu dulu.
Dan di malam yang semakin larut ini, aku menulis sambil mendengarkan lagu yang sering kita putar di pojok kafe belakang kampus. Lagu dari Danilla feat the Panasdalam, ciptaan Pidi Baiq.
Aku pernah bilang berkali-kali, Pidi Baiq adalah seniman favoritku sejak dua puluh tahun silam, zaman kuliah. Meski kau juga tahu, aku bukan pembaca novel-novelnya terlalu mainstream bagiku.
Konyol, ya? Dulu kita sering bercanda bahwa Bandung adalah kisah cinta terlarang yang datang terlambat. Tapi kita tak pernah menyesalinya.
Kau pasti bosan mendengar ocehanku: jatuh cinta pada Bandung dan gadisnya adalah dosa yang tak kusesali. Meski kau orang Sunda, tapi bukan asli Bandung. Pada akhirnya, kita cuma dua perantau brengsek yang terpikat oleh kota ini. Kota yang katanya lebih macet daripada Jakarta.
Kau sering mengajakku mencoba jajanan khas Bandung. Padahal kau tahu, meski hatiku jatuh cinta pada kota ini, lidahku tak kunjung bisa mencintai rasanya. Entah mengapa. Bayangan Konro, Coto, ikan bakar dari kampung halaman terlalu kuat untuk dikhianati.
Maafkan lidahku yang keras kepala ini.
Pada akhirnya, aku yang bertahan dengan hati retak. Sementara kau pergi begitu saja. Bukan dari kota ini, tapi dari ikrar yang dulu kita sepakati berdua.
Di Mokopi, kau menyisakan kata-kata terakhir.
"Kau akan baik-baik saja di kota ini. Ini cuma soal jarak hati yang memisahkan kita, setelah kebersamaan yang begitu singkat."
Aku tak membalas. Hanya raut wajahku yang bicara. Dan kau mengerti betapa hidup kadang suka bercanda.
Aku tak pernah menyalahkanmu. Itu janjiku. Bahkan saat kau memutuskan segalanya, meninggalkan kenangan yang tak mungkin terhapus.
Artikel Terkait
Jalan Kabupaten Lumpuh, Belasan Motor Mogok Diterjang Banjir di Indramayu
Chiki Fawzi Dapat Closure dari Kemenhaj, Ini Alasan Pencopotannya
Polri Serap Aspirasi Publik untuk Transformasi Layanan
Babinsa Kemayoran Dihukum Berat Usai Insiden Penjual Es Gabus