Kebakaran Gedung: 22 Tewas, Pimpinan Ditahan
Korban jiwa dalam peristiwa kebakaran gedung itu mencapai 22 orang. Tak lama setelah kejadian, direktur perusahaan yang menempati gedung tersebut langsung ditahan pihak berwajib. Proses hukum pun bergulir cepat.
Di sisi lain, ada peristiwa lain yang juga memakan banyak korban. Sebuah pondok pesantren ambruk dan menewaskan 45 santri. Jelas lebih banyak. Namun begitu, respons yang muncul justru berbeda. Alih-alih penahanan, pemerintah malah mengucurkan bantuan dana APBN sebesar 125 miliar rupiah untuk pemulihan.
Dua musibah ini sama-sama disebut sebagai kejadian "tidak sengaja". Tapi perlakuannya, ya, sungguh berbeda. Bahkan terasa jomlang. Yang satu langsung berujung pada jeruji besi, sementara yang lain justru mendapat perhatian istimewa. Tidak ada yang ditetapkan sebagai tersangka, apalagi ditangkap.
Menurut sejumlah pengamat, perbedaan sikap ini menimbulkan pertanyaan besar. Masyarakat pun ramai memperbincangkannya. Nuansa diskusi yang muncul terasa panas dan penuh emosi.
Pada akhirnya, dalam gelombang perdebatan ini, yang kerap merasa tersudut adalah umat Islam sendiri. Citra mereka seolah tercoreng oleh narasi-narasi yang berkembang. Padahal, di lapangan, yang berduka adalah keluarga dari semua korban, tanpa memandang latar belakang.
Keadaan ini menyisakan kepahitan. Dan sebuah pelajaran tentang bagaimana kesedihan yang seharusnya mempersatukan, justru bisa dibingkai secara berbeda.
Artikel Terkait
Polisi Bekuk Komplotan Pembobol Rumah Lintas Provinsi, Incar Rumah Kosong dengan Ciri Lampu Teras Menyala
Garuda Muda Kalahkan China 1-0 di Laga Perdana Piala Asia U-17 2026
Arsenal Vs Atletico Madrid: Laga Penentuan Tiket Final Liga Champions di Emirates
Paus Sperma 15 Meter Terdampar Mati di Pantai Jembrana Bali