Kekhawatiran itu nyata dan terasa. Dr. Basem Naim, negosiator senior Hamas, suaranya terdengar tegas namun penuh kewaspadaan saat berbicara kepada GrayZone. Intinya sederhana: mereka tak punya alasan untuk percaya.
“Jaminan bahwa Israel tidak akan menyerang Gaza lagi? Itu tidak ada. Coba bayangkan: di hari kedua kami meletakkan senjata, sangat mungkin Israel meminta pasukan penjaga perdamaian internasional untuk pergi dalam sehari. Lalu, belum lagi dua hari, tank-tank mereka sudah berjejal di seluruh Jalur Gaza.”
Menurutnya, jalan buntu ini punya solusi. Tapi syaratnya jelas. Hamas, kata Naim, baru akan serius membicarakan perlucutan senjata jika ada peta politik yang konkret. Maksudnya, sebuah jalur dengan tenggat waktu yang jelas, yang ujungnya adalah berdirinya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat.
Jika itu terwujud, komitmen mereka radikal: semua senjata akan diserahkan kepada negara baru itu. Para pejuang Hamas pun akan beralih status, menyatu ke dalam tubuh tentara nasional Palestina.
Artikel Terkait
Kepala Polresta Sleman Dicopot Usai Kasus Pembelaan Diri Berujung Maut
Cinta Tak Kenal Usia: Kisah Sopir Truk dan Majikannya yang Akhirnya Sah di KUA
Opini Tanpa Data: Ancaman Nyata bagi Demokrasi di Era Medsos
Roy Suryo dan Dokter Tifa Gugat Pasal Pencemaran Nama Baik ke MK