Ia malah curiga, isu ini sengaja digoreng untuk menciptakan kesan retaknya hubungan antara Istana dan Markas Besar Polri. Sebuah gambaran yang ia nilai jauh dari fakta sebenarnya.
Kalau kita lihat lebih luas, polemik ini sebenarnya adalah pertarungan tafsir. Di satu sisi, ada kekhawatiran nyata publik akan kembalinya praktik dwifungsi. Trauma masa lalu memang belum sepenuhnya hilang. Namun di sisi lain, negara juga punya kebutuhan riil untuk mengelola dan menugaskan aparatnya secara efektif.
Jadi, Perpol ini seperti dua sisi mata uang. Bisa dilihat sebagai jaminan fleksibilitas, tapi juga dicurigai sebagai celah penyalahgunaan. Kritik memang penting, tapi Amir mengingatkan agar semua pihak tak terjebak pada narasi yang emosional belaka.
"Kritik itu penting dalam demokrasi, tapi kritik harus adil dan berbasis fakta. Jangan sampai kita merusak kepercayaan publik terhadap institusi negara hanya karena salah membaca konteks," pungkasnya.
Intinya, sebelum menuduh, baca dulu secara lengkap. Begitu kira-kira pesannya.
Artikel Terkait
Dua Perempuan Tewas Tertindas Truk Tronton di Jalan Nasional Mojoagung
IHSG Terkikis 1,61%, Analis Proyeksikan Koreksi Bisa Lanjut ke Level 6.745
Hetifah Sjaifudian Tegaskan AI Hanya Alat Bantu, Bukan Pengganti Jurnalis
DJP Catat Lebih dari 8 Juta Laporan SPT Tahunan 2025 Hingga Tenggat