“Melihat temannya cekcok, sehingga teman yang lain membantu. Kami masih mendalami bahwa ada informasi terkait tentang matel yang dua orang di TKP dan ada beberapa rekannya juga yang melarikan diri. Ini masih kami didalami,” tambahnya.
Soal alat yang digunakan, polisi memastikan pengeroyokan dilakukan dengan tangan kosong. Hasil visum luar karena keluarga menolak otopsi menunjukkan luka-luka akibat benda tumpul, yang dalam hal ini adalah pukulan tangan.
“Saat dilihat dari visum luar, karena pihak keluarga tidak berkenan untuk dilakukan otopsi, sehingga dilakukan visum luar, ini luka-luka ataupun itu pukulan dari benda tumpul, artinya tangan kosong. Tidak ada menggunakan barang-barang berbahaya lainnya. Sementara itu hasil dari visum,” papar Budi.
Kematian kedua debt collector itu ibarat memantik bensin. Kerusuhan pun tak terelakkan, tepatnya di depan Taman Makam Pahlawan. Rekan-rekan korban yang lain, diliputi amarah, melakukan pembakaran. Mereka awalnya menduga pengeroyokan itu dilakukan oleh warga sekitar, dan kesal karena warga dianggap membiarkan kejadian itu berlangsung.
Akibatnya, sejumlah warung tenda milik pelaku UMKM yang berjualan di sana ludes dilalap api. Tak cuma itu, sembilan sepeda motor dan satu mobil juga ikut menjadi korban amuk massa. Sampai berita ini diturunkan, polisi belum mengamankan satu pun pelaku kerusuhan tersebut. Situasi masih terus dikembangkan.
Keenam anggota polisi yang jadi tersangka itu adalah JLA, RGW, IAB, IAM, BN, dan AM. Kasus ini tentu saja menyisakan banyak pertanyaan dan menjadi sorotan publik yang tajam.
Artikel Terkait
Real Madrid Hancurkan Manchester City, Vinícius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral
Panen Raya Majalengka Capai 11,5 Ton per Hektare, Stok Beras Nasional Dipastikan Surplus
Dua Turis Asing Pembuat Konten Porno Viral Berjaket Ojol Digagalkan Kabur di Bandara Bali