Selasa lalu, di selatan Lebanon, suasana tegang kembali pecah. Pasukan penjaga perdamaian PBB, UNIFIL, melaporkan bahwa mereka menjadi sasaran tembakan dari tentara Israel. Insiden ini langsung memicu kecaman, dengan PBB mendesak militer Israel agar menghentikan aksi-aksi agresif semacam ini.
Ini bukanlah laporan pertama. Menurut AFP, kejadian serupa sudah beberapa kali terjadi, padahal peran pasukan biru itu jelas: menjaga ketegangan di perbatasan. Mereka ada di sana sebagai penyangga antara Israel dan Lebanon, berkoordinasi dengan tentara setempat untuk mempertahankan gencatan senjata dengan kelompok Hizbullah.
Rinciannya cukup mengkhawatirkan. Dalam pernyataan resmi Rabu (10/12), UNIFIL mengungkapkan, para penjaga perdamaian yang sedang berpatroli dengan kendaraan di sepanjang Garis Biru demarkasi perbatasan tiba-tiba ditembaki.
"Kemarin, penjaga perdamaian yang sedang berpatroli dengan kendaraan di sepanjang Garis Biru ditembaki oleh para prajurit IDF (tentara Israel) dari sebuah tank Merkava," demikian bunyi pernyataan itu.
"Satu tembakan, rentetan sepuluh peluru, dari senapan mesin ditembakkan di atas konvoi, dan empat rentetan lagi masing-masing sepuluru ditembakkan setelahnya," lanjutnya.
Yang membuat situasi ini makin pelik, kedua belah pihak baik konvoi UNIFIL maupun tank Israel berada di dalam wilayah Lebanon saat kejadian. Padahal, menurut prosedur, militer Israel sebenarnya sudah diberi tahu sebelumnya soal rute dan jadwal patroli tersebut.
Untungnya, tidak ada korban jiwa. "Penjaga perdamaian meminta IDF untuk menghentikan tembakan melalui saluran penghubung UNIFIL. Beruntung, tidak ada yang terluka," jelas pernyataan itu lagi. Tapi, rasa was-was jelas tertinggal.
Catatan yang Berulang
Memang, ini bukan kejadian satu-satunya. Baru bulan lalu, UNIFIL melaporkan insiden penembakan serupa di selatan. Kala itu, militer Israel beralasan mereka salah mengira pasukan PBB sebagai "tersangka" dan hanya melepaskan tembakan peringatan.
Jika ditarik mundur, pada Oktober tahun lalu, seorang personel UNIFIL bahkan terluka akibat granat Israel yang jatuh dekat posisi PBB. Polanya terlihat, dan kekhawatiran pun menumpuk.
UNIFIL menegaskan keras bahwa serangan semacam ini melanggar aturan main. Mereka secara khusus menyoroti Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 tahun 2006, yang menjadi landasan gencatan senjata November 2024.
“Kami menyerukan kepada IDF untuk menghentikan perilaku agresif dan serangan terhadap atau di dekat penjaga perdamaian yang bekerja untuk membangun kembali stabilitas di sepanjang Garis Biru,” tegas pernyataan UNIFIL.
Suara itu terdengar seperti pengulangan dari laporan-laporan sebelumnya. Sebuah seruan yang kerap diucapkan, namun sepertinya masih harus diupayakan lebih keras lagi untuk benar-benar didengar.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu