Gajah Sumatera Diusulkan Jadi Detektif Pembalak Liar

- Rabu, 10 Desember 2025 | 21:25 WIB
Gajah Sumatera Diusulkan Jadi Detektif Pembalak Liar

Gajah Sumatera dan Para Pembalak Hutan

Oleh: Tardjono Abu Muas, Pemerhati Masalah Sosial

Sudah dua pekan lebih bencana banjir dan longsor melanda Aceh, Sumut, dan Sumbar. Di tengah berita pemulihan, ada satu tayangan televisi nasional yang menarik perhatian. Mereka menampilkan gajah-gajah yang turun tangan membantu. Ya, gajah-gajah itu bekerja mengangkat kayu gelondongan dari lokasi banjir yang tak bisa dijangkau alat berat.

Pemandangan itu unik. Dan semoga saja bisa membuka mata kita semua. Terutama bagi para pembalak hutan dan pejabat yang begitu mudahnya mengeluarkan izin penebangan.

Hutan adalah rumah bagi gajah. Tempat hidup mereka. Namun, keserakahan segelintir manusia telah merusaknya. Ironisnya, naluri perusak ini seperti disebut dalam QS. Al A'raf, 7:179 bisa jadi lebih rendah dari binatang yang justru mereka usir, yaitu gajah itu sendiri.

Kalau kita mau melihat lebih dekat, gajah Sumatera punya banyak keistimewaan luar biasa. Mereka bukan sekadar hewan besar. Mereka adalah "pahlawan" ekosistem. Tugasnya antara lain menyebarkan biji-bijian, membentuk habitat, dan menjaga kesehatan hutan tropis. Mereka juga punya kekuatan fisik yang hebat. Yang tak kalah penting, indra penciuman mereka sangat tajam. Bahkan, mereka bisa mengenali aroma individu.

Nah, soal penciuman yang tajam inilah yang menarik. Mungkin layak dipertimbangkan untuk melibatkan mereka dalam penyelidikan. Bayangkan, gajah-gajah ini bisa membantu mengendus siapa saja manusia serakah yang merusak rumah mereka di hutan.

Usulan ini mungkin terdengar aneh. Tapi sebenarnya tidak juga. Polisi sudah lama memakai anjing pelacak untuk mencari korban di reruntuhan. Prinsipnya kurang lebih sama: memanfaatkan kepekaan indra hewan untuk kepentingan penyelidikan.

Jadi, mengapa tidak memberi kesempatan pada gajah Sumatera?

Biarkan mereka mengendus para pembalak hutan. Tentu saja, pawangnya yang akan bertindak sebagai operator. Pawang harus bisa mengarahkan gajah agar hanya mengidentifikasi pelaku, bukan marah dan membantingnya dengan belalai. Cukup dengan menyemprotkan air ludah ke orang yang terendus sebagai pembalak, itu sudah jadi tanda yang jelas.

Di sisi lain, ini bukan sekadar soal penyelidikan. Ini juga bentuk pengakuan atas jasa mereka yang selama ini menjaga hutan, sementara manusia justru merusaknya.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar