Sudah lebih dari seminggu berlalu, namun dampak buruk banjir dan longsor yang melanda Tapanuli Tengah sejak 25 November masih terasa sangat berat. Bupati Masinton Pasaribu mengungkapkan, akses menuju 19 desa dan satu kecamatan masih terputus sama sekali. Wilayah-wilayah itu benar-benar terisolir.
Karena kondisi yang belum membaik, Pemkab akhirnya memutuskan untuk memperpanjang status tanggap darurat. "Kami perpanjang 14 hari ke depan," kata Masinton. Alasannya sederhana namun pelik: jalan-jalan penghubung masih belum bisa ditembus.
Desa-desa yang terkepung itu antara lain Simarpinggan, Panggaringan, Sialogo, hingga Sipange. Daftarnya panjang, mencerminkan betapa luasnya area yang terdampak.
Di sisi lain, kebutuhan yang paling mendesak saat ini justru bukan sembako. Menurut Masinton, yang paling krusial adalah alat berat. "Sekarang kami perlu alat berat eskavator, beko, beko loader lengkap dengan penjepit kayu," tegasnya.
Permintaan itu bukan tanpa alasan. Tujuh aliran sungai di Tapteng saat ini mampet oleh tumpukan kayu gelondongan dan lumpur. Akibatnya, air sungai meluap seenaknya, mengalir ke jalan dan membanjiri rumah-rumah warga.
"Normalisasi sungai ini mutlak butuh alat berat," ujar Masinton. Ia menggambarkan, aliran air sudah merembes keluar dari jalur semestinya. "Gitu masyarakat enggak bisa menempati rumahnya karena terus dialiri air," katanya.
Volume kayu yang menumpuk itu luar biasa, diperkirakan mencapai ratusan ribu kubik. Masinton punya catatan sendiri soal ini. Dalam 9 bulan ia menjabat, ia melihat langsung perubahan drastis di perbukitan Tapteng. Banyak bukit dikeruk, hutan dibabat, dan lahannya beralih fungsi jadi kebun sawit.
"Beberapa di kawasan hutan kayunya dipotongin pakai senso… ditanam sawit," ungkapnya prihatin. Data BPS, lanjutnya, menunjukkan lonjakan deforestasi yang mengkhawatirkan dari sekitar 16.000 hektar di 2023 menjadi lebih dari 40.800 hektar di tahun ini.
Persoalan lain yang tak kalah serius adalah rusaknya total jaringan air bersih. Pipa dari hulu hingga sambungan rumah warga hancur. Warga kini bergantung pada air dari tangki bantuan, yang jumlahnya sangat terbatas. Masinton sudah angkat tangan untuk masalah ini dan membutuhkan bantuan pusat.
Dampak sanitasi yang buruk mulai terlihat. "Warga di beberapa titik pengungsian... sudah mulai muncul bintil-bintil di tubuhnya, di tangan maupun di badan," ujarnya. Gejala itu mirip cacar air, dan jelas berhubungan dengan kondisi air bersih yang tak layak.
Ke depan, pemerintah daerah sedang berupaya menyiapkan lahan yang aman dari ancaman banjir dan longsor. Lahan itu rencananya akan digunakan untuk hunian sementara para pengungsi.
"Maka kami nanti tanggung jawab kami adalah menyiapkan lahan-lahan yang bisa untuk dijadikan hunian sementara," tutup Masinton. "Nanti biar pemerintah pusat lah yang bantu ngebangunnya gitu."
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu