Targetnya ambisius: mengejar produksi minyak sawit 100 juta ton pada 2045. Caranya? Dengan mengembangkan tambahan 3 juta hektare, dimulai dengan 600.000 hektare di tahun-tahun awal.
"Silakan nanti kalau teman-teman dari perusahaan swasta ingin masuk untuk mengakses bersama-sama," kata Roni dalam sebuah konferensi di Bali November lalu, membuka peluang investasi.
Rencana itu terdengar matang. Sebagian lahan untuk plasma rakyat, sebagian lagi untuk BUMN seperti PT Agrinas dan PalmCo. Alasannya beragam, dari memenuhi kebutuhan biodiesel, minyak goreng domestik, hingga mengejar ketertinggalan produktivitas dari Malaysia.
Tapi semua rencana besar itu kini seperti terhenti. Ditelan kabar duka dan genangan air yang menyisakan kehancuran.
Pertanyaannya sekarang: mana yang akan diambil? Melanjutkan ekspansi untuk mengejar target ekonomi, atau memulai restorasi untuk mencegah bencana berulang?
Nusron tampaknya memilih jalan kedua. Ia bahkan menyinggung perlunya revisi besar-besaran terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) di ratusan kabupaten/kota, terutama di tiga provinsi yang terdampak. Tata ruang baru harus lebih mengedepankan mitigasi bencana.
Jadi, bencana ini mungkin jadi titik balik. Isu pengembangan 600 ribu hektare lahan sawit baru itu kini tenggelam, persis seperti daratan Sumatra beberapa pekan lalu. Apakah program itu masih akan berjalan? Sampai saat ini, belum ada kejelasan. Yang ada hanyalah janji untuk mengembalikan hutan, dan desakan untuk menata ulang cara kita memandang lahan dan ruang hidup.
Artikel Terkait
Polri Gunakan Drone dan AI untuk Pantau dan Atur Arus Mudik Lebaran 2026
Komisaris Tinggi HAM PBB Kecam Serangan Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus
Bupati Bone Dorong Percepatan Program Perkebunan 2026, Fokus pada Hilirisasi Tebu
Macet Ekstrem Gilimanuk, Pemudik Diturunkan Paksa di Tengah Jalan