Bencana Sumatera dan Bayang-Bayang Reshuffle Kabinet
Oleh: Erizal
Sejarah reshuffle kabinet punya polanya sendiri. Biasanya, peristiwa besar jadi pemicunya. Ambil contoh demo yang berakhir ricuh akhir Agustus kemarin. Tak lama setelah itu, kabinet bergulir. Beberapa nama menteri hilang dari daftar Mulai dari Menko Polkam, Menteri Keuangan, hingga Menteri BUMN. Yang menarik, meski jabatannya dihapus, sang menteri sendiri selamat. Erick Thohir malah dapat posisi baru: Menteri Olahraga.
Nah, bencana dahsyat di Sumatera ini agaknya juga mengarah ke situ. Kapan? Belum jelas. Tapi tanda-tandanya sudah mulai bermunculan.
Setidaknya ada tiga menteri yang kini jadi sorotan tajam. Bahkan, mereka diminta untuk "bertobat" oleh sesama menteri. Mereka adalah Menteri Kehutanan, Menteri ESDM, dan Menteri Lingkungan Hidup.
Yang meminta tobat? Bukan sembarangan orang, melainkan Menko Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin. Permintaannya disampaikan lewat surat resmi. Gaya Cak Imin memang kerap bikin geleng-geleng. Tapi aksinya ini jelas bikin tiga menteri tadi naik darah. Mereka balik menyerang, meminta Cak Imin juga ikut introspeksi. Situasinya jadi seru.
Di sisi lain, ada juga Menko Pangan Zulkifli Hasan yang ikut disorot. Bukan karena dianggap penyebab bencana, tapi lebih pada sikapnya saat berada di lokasi. Dia ditegur karena dinilai terlalu "tebar pesona" di tengah duka. Ini soal kepantasan. Nuansa persaingan citra politik pun tercium. Bahkan masa lalunya sebagai Menteri Kehutanan ikut digugat. Intinya, di tengah situasi sulit ini, enggak ada yang boleh bebas mencari pencitraan sendiri.
Tapi, pernyataan yang paling memantik kemarahan justru datang dari Kepala BNPB.
Mirip dengan posisi Menko Polkam saat demo rusuh dulu yang dianggap paling bertanggung jawab dan akhirnya dicopot Kepala BNPB kini berada di posisi yang sama. Dia dianggap gagal menangani bencana. Pernyataannya di awal, bahwa bencana ini "hanya mencekam di medsos", benar-benar memperburuk citra pemerintah. Akibatnya, sekarang ini suara publik yang mendukung pencopotannya kian keras. Apapun alasannya.
Tekanan juga datang dari parlemen.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni sudah diminta mundur anggota DPR secara terang-terangan dalam Rapat Dengar Pendapat.
Anggotanya DPR tak cuma menuntut pertanggungjawaban, tapi juga meragukan kapasitasnya memahami persoalan kehutanan. Mantan Bareskrim Susno Duadji bahkan menyindir. Bagaimana mungkin seorang menteri di depan publik mengatakan akan "minta izin Presiden" dulu sebelum menindak perusahaan terkait? Alih-alih mengambil alih, dia malah melempar bola panas ke Presiden. Spekulasi pun bermunculan. Disengaja atau tidak, ya, hanya dia yang tahu.
Sebenarnya, ini bisa jadi momen strategis bagi Presiden Prabowo. Dengan mencopot Raja Juli Antoni, dia bisa mengurangi dominasi politik Jokowi dalam kabinetnya. Kalau kasusnya cuma main domino dengan mantan pembalak hutan, mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi kalau menyangkut bencana sebesar ini? Maafnya jadi susah. Ingat, Budi Arie Setiadi saja bisa dengan mudah diganti di reshuffle sebelumnya. Untuk Raja Juli, alasannya bahkan lebih sempurna. Dan sang menteri sendiri, konon, sudah pasrah pada takdir.
Memang, dalam situasi normal, kemampuan seseorang sering tersembunyi. Tapi dalam krisis, karakter asli dan kapasitasnya langsung ketahuan. Peristiwa besar selalu melahirkan orang-orang besar. Sebaliknya, orang kecil takkan sanggup menghadapinya. Bagi seorang Presiden seperti Prabowo, dua momen krisis ini demo rusuh dan bencana Sumatera adalah ujian nyata untuk menilai anak buahnya. Pasti di kepalanya sudah ada daftar: siapa yang bertahan, dan siapa yang harus berhenti.
Oh ya, jangan lupakan Menteri Perumahan dan Menteri PU. Dalam bencana yang merusak infrastruktur parah ini, kinerja mereka sangat dibutuhkan untuk pemulihan. Sayangnya, sejauh ini rencana konkret mereka untuk membangun kembali jalan, jembatan, dan rumah warga yang hancur belum begitu kelihatan. Relokasi warga ke tempat yang lebih aman adalah solusi logis. Tapi, butuh waktu berapa lama? Itu pun kalau perencanaannya sudah matang.
Kita semua berharap pemulihan berjalan cepat dan musibah ini segera berlalu.
(")
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu