"Terutama sekali di empat kabupaten. Itu Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, dan sebagian Bireuen, itu yang paling kita sesali lah. Tapi apa boleh buat, itu bencana alam. Setiap bencana ada hikmahnya," lanjut Ketua Umum Partai Aceh itu.
Desa yang Hilang
Desa Sekumur di Aceh Tamiang adalah bukti nyata dari pernyataan Gubernur. Desa itu, kata warga, hilang disapu banjir bandang. Yang tersisa kini cuma sebuah masjid yang berdiri tegak, dikelilingi lautan kayu gelondongan dari berbagai ukuran. Pemandangan yang sungguh kontras.
Ketinggian air saat itu dikabarkan hampir menyentuh atap masjid. Beberapa warga terpaksa menyelamatkan diri dengan bertahan di atas tumpukan kayu yang tingginya nyaris menyamai puncak tempat ibadah itu. Sepi. Tak ada bangunan lain yang terlihat. Hanya air, lumpur, dan kayu.
Hendra, seorang warga, menyebut ada 280 rumah di Sekumur. Kini, penghuninya telah mengungsi ke tempat yang lebih tinggi, meninggalkan kenangan dan reruntuhan.
Nasib serupa terlihat di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru. Kawasan Pondok Pesantren Darul Mukhlishin di sana nyaris tak dikenali, tertimbun oleh tumpukan kayu dan lumpur tebal. Kayu-kayu gelondongan itu memenuhi segala sudut, menutupi akses jalan menuju desa.
Artikel Terkait
Roy Suryo dan Dokter Tifa Gugat Pasal Pencemaran Nama Baik ke MK
Duka dan Amarah di Boyolali: Bocah Tewas, Ibu Kritis dalam Perampokan Biadab
Tragedi Lula Lahfah: Tabung Pink dan Misteri Kematian yang Tak Terautopsi
Anggota DPRD Pelalawan Ditetapkan Tersangka, Ijazah SD-SMP Diduga Palsu