"Terutama sekali di empat kabupaten. Itu Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, dan sebagian Bireuen, itu yang paling kita sesali lah. Tapi apa boleh buat, itu bencana alam. Setiap bencana ada hikmahnya," lanjut Ketua Umum Partai Aceh itu.
Desa yang Hilang
Desa Sekumur di Aceh Tamiang adalah bukti nyata dari pernyataan Gubernur. Desa itu, kata warga, hilang disapu banjir bandang. Yang tersisa kini cuma sebuah masjid yang berdiri tegak, dikelilingi lautan kayu gelondongan dari berbagai ukuran. Pemandangan yang sungguh kontras.
Ketinggian air saat itu dikabarkan hampir menyentuh atap masjid. Beberapa warga terpaksa menyelamatkan diri dengan bertahan di atas tumpukan kayu yang tingginya nyaris menyamai puncak tempat ibadah itu. Sepi. Tak ada bangunan lain yang terlihat. Hanya air, lumpur, dan kayu.
Hendra, seorang warga, menyebut ada 280 rumah di Sekumur. Kini, penghuninya telah mengungsi ke tempat yang lebih tinggi, meninggalkan kenangan dan reruntuhan.
Nasib serupa terlihat di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru. Kawasan Pondok Pesantren Darul Mukhlishin di sana nyaris tak dikenali, tertimbun oleh tumpukan kayu dan lumpur tebal. Kayu-kayu gelondongan itu memenuhi segala sudut, menutupi akses jalan menuju desa.
Artikel Terkait
Tanjung Pallette Ramai Pengunjung Saat Libur Lebaran, Namun Angka Turun Dibanding Tahun Lalu
Pemerintah Pastikan Stok Pangan Aman dan Harga Stabil Jelang Lebaran
Pemerintah Proyeksikan Mudik Lebaran 2026 sebagai Penggerak Ekonomi Nasional
Veda Ega Pratama Raih Podium Moto3 Brazil Usai Strategi Cerdas di Balik Bendera Merah