Meski waspada, Feri dan keluarganya masih memilih bertahan. "Kita sekarang masih tetap di rumah karena masih cukup stabil. Kalau untuk ke depannya, kalau tinggi sekali, ya terpaksa mengungsi," katanya.
Banjir yang datang nyaris rutin ini bukan cuma mengacaukan rutinitas. Dampaknya lebih dalam dari itu. Banyak warga yang mengeluhkan kerugian materiil akibat perabotan mereka rusak diterjang air.
Barang elektronik jadi korban utama. Ponsel, kipas angin, hingga perangkat sound system seringkali mati total karena terendam. Yang paling merepotkan, banjir ini kerap muncul tiba-tiba, tanpa didahului hujan lebat sekalipun. Situasi itu tentu saja menambah beban warga yang harus selalu siaga.
Artikel Terkait
Gus Yaqut Jalani Pemeriksaan Perdana KPK sebagai Tersangka Kasus Kuota Haji
Rocky Gerung: Indonesia Menuju Crack Ekonomi, Bukan Sekadar Krisis Biasa
Kesepian di Atas JPO Kebon Manggis, Pria Ini Hanya Ingin Diperhatikan
Detektif Digital Ungkap Misteri Mercy Merah dan Penjarahan Terkoordinasi Agustus Lalu