Pernyataannya jelas bukan tanpa konteks. Beberapa hari sebelumnya, publik sudah dibuat gusar oleh beredarnya foto-foto Mirwan MS dan keluarganya di bandara, bersiap berangkat umrah. Foto itu diunggah sendiri oleh biro perjalanan yang mereka gunakan, dan langsung viral di media sosial. Sorotan pun mengeras, terutama karena Aceh Selatan saat itu masih berstatus darurat bencana.
Partai Gerindra, tempat Mirwan bernaung, tak tinggal diam. Mereka bergerak cepat. Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Sugiono, sudah mengumumkan pemecatan Mirwan dari jabatan Ketua DPC Gerindra Aceh Selatan pada Jumat (5/12).
“Sangat disayangkan sikap dan kepemimpinan yang bersangkutan,” kata Sugiono dalam pernyataannya di Jakarta. “Oleh karena itu, DPP Gerindra memutuskan untuk memberhentikan yang bersangkutan.”
Yang membuat polemik ini makin runyam, ternyata Mirwan sebelumnya sudah mengajukan izin ke luar negeri kepada Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem. Dan izin itu ditolak. Fakta ini, ditambah dengan sindiran langsung dari Presiden di rapat tadi, seolah mengukuhkan bahwa tindakan sang bupati dinilai bukan sekadar salah timing, tapi sebuah pelanggaran serius terhadap amanah yang diembannya.
Di sisi lain, rapat koordinasi itu terus berlanjut. Namun, pesan utamanya sudah jelas terdengar: di saat rakyat sedang susah, pemimpin harus ada di garda terdepan. Bukan malah pergi meninggalkan mereka.
Artikel Terkait
37,3 Juta Pekerja Indonesia Terjebak dalam Lembur Panjang demi Sekadar Bertahan
BNN Angkat Bicara Soal Tren Whip Pink yang Disalahgunakan untuk Mabuk
Kobaran Api Hanguskan Kapal di Pelabuhan Muara Baru, Asal Usul Masih Misterius
Sengketa Lahan Berujung Adu Senjata Angin di Padang Lawas Utara