"Hari ini kami turun bersama TNI, Polri dan OPD. Tapi makna besarnya bukan hanya bersih-bersih parit. Kita ingin menegaskan bahwa gotong royong itu tidak perlu menunggu undangan, tidak perlu disurat-surat, tapi harus sudah jadi budaya kita sehari-hari," tegas Agung.
Ia menekankan, urusan kebersihan bukan cuma tugas pemerintah. Ini tanggung jawab bersama seluruh masyarakat jika ingin Pekanbaru dan Riau aman dari ancaman banjir.
Di sisi lain, ada kegelisahan yang mendasari gerakan ini. Agung tak ingin Pekanbaru kembali menyandang status "Darurat Sampah" seperti dulu. Itu sebabnya, gerakan Pekanbaru Bersih akan diperluas hingga ke tingkat RT dan RW. Langkah konkret sudah diambil.
"Jangan sampai status itu muncul lagi. Kita sudah teken Perwako tentang larangan kantong plastik di pusat perbelanjaan dan sektor usaha lainnya," jelasnya.
Jadi, aksi di parit Samratulangi itu hanyalah pembuka. Sebuah langkah awal untuk membangun budaya baru: gotong royong tanpa paksaan, dimulai dari hal paling sederhana seperti menjaga kebersihan selokan di depan rumah masing-masing.
Artikel Terkait
Ambulans Terjebak Macet Parah di Jalur Cibadak Akibat Motor Ngeblong
Tudingan Jual Beli SK Kepengurusan Rp5 Miliar Guncang KNPI Sulsel
Foto Viral Pengisian Jerigen Solar Subsidi di SPBU Sinjai Picut Kecaman Warga
Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Pendatang Pascalebaran