Gastronomi dan Lontar: ITS Pacu Desa Wisata Gunungsari dengan Buku Kuliner dan Inovasi Kriya

- Minggu, 07 Desember 2025 | 08:54 WIB
Gastronomi dan Lontar: ITS Pacu Desa Wisata Gunungsari dengan Buku Kuliner dan Inovasi Kriya

Tim Pengabdian Masyarakat dari ITS baru-baru ini turun ke Desa Wisata Gunungsari, Kabupaten Madiun. Mereka punya misi jelas: memberdayakan potensi yang ada di sana. Dipimpin oleh Khairun Nisa, rangkaian kegiatan ini menyentuh tiga aspek penting: pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif warga setempat.

Kalau dirinci, programnya ada tiga. Pertama, menyusun Buku Gastronomi desa itu. Lalu, menguatkan sisi digital dengan menyediakan hosting dan domain untuk website Pokdarwis. Yang terakhir, mereka menggelar pelatihan untuk mendiversifikasi produk kriya, dengan memanfaatkan limbah lokal yang ada.

Buku Gastronomi yang disusun bukan sekadar kumpulan resep. Buku ini lahir dari riset budaya mendalam, memuat sejarah kuliner khas seperti Rajamangsa Mantyasih, lengkap dengan narasi, nilai budaya, dan potensi atraksi wisatanya. Penyajiannya dibuat visual dan edukatif. Harapannya sih, buku ini bisa jadi alat branding yang kuat. Wisatawan jadi lebih mudah memahami kekayaan budaya desa, sementara kuliner tradisionalnya tetap lestari dan tak lekang waktu.

Di sisi lain, di era serba digital ini, punya website yang mumpuni itu penting. Makanya, tim ITS memberikan dukungan penuh agar situs Pokdarwis bisa dikelola dengan baik. Website itu nantinya akan jadi pusat informasi, publikasi kegiatan, dan tentu saja, promosi produk kreatif Desa Gunungsari. Langkah ini dianggap strategis untuk memperluas pasar secara digital.

Nah, kegiatan ketiga lebih bersifat praktik langsung. Pada 15 November 2025 lalu, Pendopo Jembar Pasar Pundensari ramai oleh puluhan peserta. Mereka adalah pengrajin dan warga Desa Gunungsari yang antusias mengikuti Pelatihan Diversifikasi Produk Kriya. Di sini, mereka diajak berinovasi dengan memanfaatkan limbah dan barang bekas. Acara ini sekaligus menjadi momen perkenalan resmi Buku Gastronomi hasil riset tim ITS.

Adif Ardiansyah, Ketua Pokdarwis Kabupaten Madiun yang juga ahli pembuatan suvenir manuskrip Jawa, hadir sebagai pemateri. Ia membagikan ilmu teknis pengolahan daun lontar.

"Produk yang kita buat harus punya nilai lebih. Tidak cuma bagus dipandang, tapi juga mengandung cerita sejarah dan bisa mengedukasi," tegas Adif saat memandu praktik.

Sementara dari sisi literasi budaya, Dr. Ghis Nggar Dwiadmojo dari UNY memberikan pencerahan. Ia memandu diskusi reflektif tentang bagaimana menyelipkan nilai budaya pada suvenir berbahan lontar.

"Desa Gunungsari ini sangat aktif. Mereka sudah memanfaatkan daun lontar dengan mengombinasikan manuskrip Jawa sebagai bagian dari atraksi wisata," ujarnya.

Pelatihan itu juga dimeriahkan dengan peluncuran resmi Buku Gastronomi. Khairun Nisa, sang ketua tim, tampak bersemangat.

"Buku ini kami harap bisa jadi referensi andalan untuk mengembangkan wisata gastronomi di sini," ungkapnya.

Ia menegaskan, semua kegiatan ini adalah wujud nyata komitmen kampus untuk mendukung desa wisata. Caranya ya melalui transfer ilmu dan pendampingan yang berbasis keilmuan.

"Harapan kami, masyarakat bisa mengembangkan produk yang lebih kreatif lagi, kompetitif, dan berkelanjutan. Ujung-ujungnya, perekonomian desa pun ikut terdongkrak," tambah Khairun.

Respon peserta sangat positif. Mereka berharap ada kelanjutan dan kegiatan serupa di masa depan, agar kreativitas dan keterampilan bisa terus berkembang. Secara lebih luas, program Abmas ITS ini sejalan dengan beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs. Misalnya, mendukung pertumbuhan ekonomi, menciptakan permukiman berkelanjutan, mendorong produksi yang bertanggung jawab, dan tentu saja, memperkuat kemitraan.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar