Kayu Lapuk Bernomor Seri: Ketika Alibi Tak Mampu Menutupi Jejak Pembabatan

- Minggu, 07 Desember 2025 | 05:25 WIB
Kayu Lapuk Bernomor Seri: Ketika Alibi Tak Mampu Menutupi Jejak Pembabatan
Editorial

HUTAN YANG “DILAPUKKAN” OLEH ALIBI

Sebuah Editorial

Bayangkan Anda berdiri di tepi hutan. Di tanah basah, berserakan batang-batang kayu gelondongan. Yang menarik, di setiap batangnya terpampang nomor seri, dicetak rapi. Nama sebuah perusahaan sebut saja PT tertentu terlihat jelas di sana. Bekas potongan gergaji mesin masih terlihat tajam, bahkan getahnya masih lengket, belum sempat mengering sepenuhnya.

Pemandangan ini bicara sendiri. Siapa pun yang punya mata, akan langsung tahu. Ini bukan kayu lapuk tua yang tumbang karena angin atau usia. Ini adalah hasil kerja. Terencana, sistematis, dan punya tujuan jelas.

Namun begitu, datanglah penjelasan resmi. Dan sungguh, penjelasan itu bikin mengelus dada. Kayu-kayu itu, kata mereka, adalah kayu lapuk. Nomor-nomor yang terpampang? Mungkin dianggap coretan alam. Pohon yang baru saja dibabat? Seolah-olah sudah rebah sejak lama.

Logika dasar pun tersinggung. Publik ditanya kesabarannya, sementara yang disuguhkan adalah cerita yang sulit diterima akal sehat. Yang diharapkan sebenarnya sederhana: kejujuran. Bukan dongeng.

Di sisi lain, yang paling menyakitkan justru sikapnya. Seolah-olah kita semua tidak bisa membedakan mana bukti nyata, mana alibi yang dibuat-buat. Alibi seperti ini ibarat benang yang dijadikan tali untuk menimba. Rapuh. Dan justru semakin memperlihatkan beban kebohongan yang coba ditutupi.

Ada sesuatu yang disembunyikan. Itu yang terasa. Dan itu yang bikin geram.

Hutan memang bisu. Tapi jejaknya berbicara lantang. Bekas roda truk, ranting patah, tanah yang tergenang bekas tumpahan solar semuanya adalah saksi bisu yang tak bisa dibungkam oleh kata-kata.

Pada akhirnya, mungkin yang benar-benar lapuk dan keropos bukanlah kayu di tengah hutan itu. Bukan. Tapi nurani yang seharusnya menjadi penjaga. Ada keserakahan, ada kebutuhan ekonomi yang dikedepankan, seolah-olah dunia ini hanya milik segelintir orang untuk dieksploitasi seenaknya.

6122025
(red-jaksat-amk)

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler