Di sisi lain, yang paling menyakitkan justru sikapnya. Seolah-olah kita semua tidak bisa membedakan mana bukti nyata, mana alibi yang dibuat-buat. Alibi seperti ini ibarat benang yang dijadikan tali untuk menimba. Rapuh. Dan justru semakin memperlihatkan beban kebohongan yang coba ditutupi.
Ada sesuatu yang disembunyikan. Itu yang terasa. Dan itu yang bikin geram.
Hutan memang bisu. Tapi jejaknya berbicara lantang. Bekas roda truk, ranting patah, tanah yang tergenang bekas tumpahan solar semuanya adalah saksi bisu yang tak bisa dibungkam oleh kata-kata.
Pada akhirnya, mungkin yang benar-benar lapuk dan keropos bukanlah kayu di tengah hutan itu. Bukan. Tapi nurani yang seharusnya menjadi penjaga. Ada keserakahan, ada kebutuhan ekonomi yang dikedepankan, seolah-olah dunia ini hanya milik segelintir orang untuk dieksploitasi seenaknya.
6122025
(red-jaksat-amk)
Artikel Terkait
Jembatan Bolong dan Trotoar Hancur: Aksi Pencuri Fasilitas Publik Mengancam Warga Jakarta
IKN di Ujung Tanduk: Kota Megah atau Kota Hantu?
Gelar Bergelimpang, Dompet Menipis: Ironi Lulusan Perguruan Tinggi
Panik di Internal PSI: Ahmad Ali Buru-buru Klarifikasi Soal Gibran Lawan Prabowo