Banjir Landa Kabupaten Bandung, Ratusan Rumah Terendam
Hujan deras yang tiba-tiba mengguyur Kabupaten Bandung Kamis sore kemarin, bikin sejumlah wilayah kebanjiran. Kejadiannya sekitar pukul enam lewat seperempat, dan dampaknya langsung terasa. Menurut data BPBD Jabar, ada lima titik yang paling parah terdampak.
Wilayah Bojongsoang jadi yang terparah. Di sana, genangan air masuk ke 615 unit rumah. Sementara itu, di Kamasan ada 80 rumah terendam, Cangkuang Wetan 47 rumah, dan Cingcin 6 rumah. Di Margahurip, satu rumah bahkan dilaporkan rusak karena arus banjir yang cukup kencang.
Secara keseluruhan, ratusan kepala keluarga harus berhadapan dengan genangan air. Di Cangkuang Wetan, seluruh 47 KK bahkan terpaksa mengungsi untuk sementara. Kabar baiknya, tidak ada laporan korban jiwa dalam musibah ini. Tim gabungan sudah turun untuk mengevakuasi warga dan menangani kondisi darurat.
Respons Netizen: Kritik Pedas untuk Gubernur
Di tengah situasi darurat ini, muncul kritik tajam dari warganet yang menyoroti sikap pemimpin daerah. Sebuah cuitan di media sosial X menuai perhatian karena menyindir keras Gubernur Jawa Barat, yang dianggap lebih memilih kegiatan lain ketimbang mengurus daerahnya yang sedang dilanda bencana.
Akun @bumbelbi1999 menulis dengan nada kesal, "Orang ini selalu berusaha memanfaatkan situasi untuk kampanye dirinya sendiri. Situasi apapun, bahkan musibahpun."
Dalam cuitan panjangnya, netizen itu melanjutkan, "Demi pencitraan, daerah yang dipimpinnya lagi kena musibah banjir pun malah ditinggal. Kalo yg dilakukan tulus, pasti dia pilih urusin daerah sendiri. Lihat si oportunis ini."
Kritik itu sepertinya merujuk pada agenda Gubernur yang sedang berada di luar daerah saat kejadian. Namun begitu, belum ada konfirmasi resmi maupun klarifikasi dari pihak terkait mengenai keberadaan dan aktivitas sang Gubernur saat banjir melanda.
Di sisi lain, ada juga netizen yang membela. Seperti akun @akhmadsm_181120 yang mengingatkan, "Awas diserang grassroot Mulyadi mereka solid kl membela Mulyadi. Bg mereka Mulyadi udh kyk nabi dan mesiah plus representasi kaum rakyat bawah yg sukses jadi pemimpin dan titisan Siliwangi."
Polemik di media sosial ini menunjukkan bagaimana bencana alam tak hanya soal penanganan teknis, tapi juga cepat berubah menjadi ujian politik dan pencitraan bagi para pemangku jabatan. Sementara warga berusaha menyelamatkan barang-barang mereka dari genangan, perdebatan tentang kepemimpinan dan kesungguhan justru mengisi linimasa.
Artikel Terkait
Menkeu Yakin IHSG Tembus 10.000 Tahun Ini Meski Sempat Ambruk Jadi yang Terburuk se-Asia
Bayi 5 Bulan Tewas dalam Kecelakaan di Manado, Pengemudi Ditetapkan Tersangka
Andi Taletting Langi Terpilih Secara Aklamasi sebagai Ketua IKA Politik Unhas Periode 2026-2030
Dua Pelajar Tewas dalam Kecelakaan Maut di Perempatan Alun-Alun Purwodadi