Bantuan untuk korban bencana di Sumatera tak hanya datang dari dalam negeri. Dari berbagai penjuru dunia, para diplomat dan staf Kementerian Luar Negeri turut mengulurkan tangan. Mereka menghimpun sumbangan, sebuah gerakan solidaritas yang melintasi batas negara.
Menteri Luar Negeri Sugiono menyaksikan langsung penyerahan bantuan itu di Gedung Palapa Kemlu, Jakarta, pada Jumat lalu. Baginya, aksi ini mencerminkan semangat kebersamaan.
“Saya yakin ini juga merupakan bentuk dari solidaritas seluruh rekan-rekan diplomat di seluruh penjuru dunia untuk bisa juga memberikan bantuan kepada saudara-saudara kita yang ada di provinsi-provinsi yang terdampak,” kata Sugiono.
Gerakan ini, lanjutnya, sejalan dengan instruksi Presiden Prabowo Subianto yang mengajak semua pihak bahu-membahu. Situasi sulit seperti ini memang membutuhkan gotong royong.
“Dan saya kira dengan upaya bersama, saling bahu-membahu, saling tolong-menolong di antara kita, upaya-upaya mengatasi situasi bencana ini bisa berjalan dengan baik,” tuturnya.
Bantuan yang terkumpul beraneka ragam: makanan siap saji, vitamin, susu, hingga pakaian. Raditya Jati, Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, yang langsung menerimanya. Tanpa menunggu lama, barang-barang itu segera dibawa ke posko bencana di Lanud Halim Perdanakusuma. Dari sana, distribusi akan dipercepat lewat jalur udara.
“Kami menyampaikan apresiasi, terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kementerian Luar Negeri, kepada Diplomat Peduli 2025 terhadap bencana,” ucap Raditya.
Namun begitu, ini baru permulaan. Menurut Raditya, bantuan harus terus mengalir hingga pemulihan benar-benar tuntas. Dia menekankan, pekerjaan besar ini mustahil ditangani sendirian.
“Kami juga tidak bisa bekerja sendiri, seperti disampaikan Pak Menteri tadi, TNI, Polri, unsur masyarakat, dan semua kementerian/lembaga semuanya all out untuk mengatasi bencana ini di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan lain sebagainya,” jelasnya.
Fase tanggap darurat memang krusial, tapi jalan masih panjang. Rehabilitasi dan rekonstruksi menanti di depan.
“Tentunya ini adalah tahapan yang belum bisa dikatakan akhir, kami terus membuka (bantuan) karena ke depan pastinya kita akan melakukan tahapan-tahapan seperti rehabilitasi, rekonstruksi, dan seterusnya yang tentunya masyarakat yang kehilangan kehidupannya perlu pemulihan,” sambung dia.
Niat baik dari seluruh dunia itu kini telah sampai. Langkah selanjutnya adalah memastikan bantuan itu tepat sasaran, menemui mereka yang paling membutuhkan di tengah reruntuhan.
Artikel Terkait
Makassar Wajibkan Jukir Miliki KTP Lokal, Sinergi dengan Camat dan Lurah Diperkuat
Tangis Haru Calon Siswa Sekolah Rakyat Pecah di Pundak Seskab Teddy
Polisi Tangkap Tiga Pelaku Pemerkosaan Remaja di Makassar, Salah Satunya Masih di Bawah Umur
Kuasa Hukum Nadiem Protes Percepatan Sidang Chromobook, Sebut Langgar Prinsip Persidangan Adil