tuturnya lagi.
Karena itu, mitigasi bencana tak bisa cuma mengandalkan pembangunan fisik seperti tanggul atau normalisasi sungai. Perlu perubahan cara pandang yang lebih mendasar. Ia menekankan perlunya revolusi mental ekologis mengembalikan etika kepedulian dan menghidupkan kembali nilai-nilai lokal dalam kebijakan tata kota modern.
Di sisi lain, peran negara sebagai regulator dinilai sangat krusial. Negara harus mengarahkan pembangunan yang lebih adaptif terhadap lingkungan. Sayangnya, hingga saat ini belum ada peta jalan yang jelas dan berjangka panjang. Alhasil, kebijakan di berbagai sektor seringkali berjalan sendiri-sendiri, sporadis.
imbuhnya.
Pada akhirnya, Prof Adib menegaskan satu hal: bencana bukanlah takdir yang tak bisa diubah. Ia adalah produk sosial dari cara hidup dan kebijakan kita yang telah melampaui batas. Ajakannya jelas: kita semua harus kembali membangun hubungan yang selaras dengan alam.
pungkasnya.
Artikel Terkait
KPK Tahan Mantan Stafsus Menag Gus Alex Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji
BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 4,75% untuk Antisipasi Dampak Gejolak Global
Mentan Amran Borong Takjil Pedagang di Bone, Bagikan Gratis ke Warga
Pemerintah Kaji Pemotongan Gaji Pejabat hingga Anggota DPR