Banjir Bandang Sumatera: Akibat Kelalaian?
Oleh Girarda, Pemerhati Sosial
Gelombang air dan lumpur yang menyapu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat meninggalkan luka yang dalam. Korban jiwa berjatuhan. Harta benda dan infrastruktur publik luluh lantak dalam sekejap. Kerugiannya? Sulit dihitung, baik secara materi maupun trauma yang tertinggal. Sebagai manusia, tentu kita berharap tragedi semacam ini takkan terulang. Seperti kata pepatah, keledai saja tak mau jatuh dua kali di lubang yang sama.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Coba lihat dari kaca mata awam. Melalui citra satelit Google Earth, misalnya kita bisa mengamati area yang terdampak. Asal muasal banjir di hulu akan terlihat. Nah, kalau ditelusuri lebih jauh dengan informasi lapangan, aktivitas apa yang sebenarnya terjadi di sana akan terkuak. Apakah penebangan hutan? Kegiatan tambang? Atau yang lain?
Penelusuran itu harus lebih mendalam. Kapan kegiatan itu dimulai? Kalau ada izin, siapa yang menandatanganinya? Dan izin saja belum cukup. Soalnya, hutan kan tidak berpagar. Sangat mungkin area kerjanya melebar jauh melampaui batas yang diizinkan.
Artikel Terkait
Harapan dan Doa di Pondok Bambu untuk Yoga, Korban Hilang Pesawat Maros
Dari Tunanetra Jadi Terapis Andalan, Andry Buktikan Disabilitas Bukan Halangan Berkarya
Puisi: Arsip Sunyi yang Menyimpan Kekecewaan Publik
Banjir Lumpuhkan Lintasan, 82 Perjalanan KA Terpaksa Batal