Lumpur setinggi leher orang dewasa. Itulah penghalang yang harus dihadapi Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, saat mencoba menjangkau warganya yang terisolasi. Banjir dan longsor tak hanya merendam permukiman, tapi juga memutus akses sepanjang delapan kilometer. Jalan darat? Tertutup. Sungai? Sama saja. Bahkan jalur hutan sekalipun nyaris mustahil dilalui.
“Sebab akses kedua titik ini dipenuhi lumpur setinggi leher orang dewasa, panjang lumpurnya sejauh 8 km. Akses darat tidak bisa, akses hutan tidak bisa, kemudian akses sungai tidak bisa,” kisah Iskandar, Rabu (3/12), suaranya terdengar lelah.
Di balik genangan lumpur itu, ratusan warga dilaporkan hilang kontak. Posisi mereka tak terlacak, terputus dari dunia luar. Situasinya benar-benar genting.
Namun begitu, harapan tak pernah padam. Dua hari sebelumnya, kata Iskandar, sekelompok pemuda berangkat dengan nyali besar. Mereka berjumlah dua puluh orang, berasal dari desa tetangga, membawa bekal seadanya beras dan sedikit peralatan.
“Dua hari yang lalu kita mengirim 20 orang pemuda desa tetangga dengan bekal beras apa adanya, berbagi tim, melacak keberadaan ratusan orang yang dilaporkan hilang kontak ini,” ujarnya.
Karena tak mungkin menerobos lumpur, para pemuda itu memilih jalan memutar lewat hutan. Medannya berat, lokasinya sangat terpencil. Perjalanan dari pusat kota bisa makan waktu tujuh hingga sembilan jam. Tapi itulah satu-satunya cara.
Menurut sejumlah saksi, upaya mereka tak sia-sia. Informasi yang diterima Iskandar menyebutkan, para warga itu masih hidup. Mereka bertahan dan mengungsi di dalam hutan.
Evakuasi pun digencarkan. Kemarin pagi, tim yang dipimpin Dandim Aceh Timur kembali bergerak. Kali ini mereka membawa speedboat untuk menjemput warga yang terisolasi.
“Insyaallah kini kondisinya sudah bisa kita kendalikan,” jelas Iskandar, mencoba meyakinkan.
Meski begitu, pekerjaan rumah masih menumpuk. Lumpur masih di mana-mana, menutupi jalan-jalan, termasuk area perkotaan. Pasca banjir, yang paling dibutuhkan adalah alat berat untuk membersihkan semuanya.
“Selepas banjir kita membutuhkan alat berat. Yang saya sudah sampaikan ke perwakilan BNPB di Aceh Timur, agar bisa diusulkan ke Jakarta, agar kita bisa mendapatkan alat berat. Kemudian, peralatan-peralatan pembersihan lumpur, kayu, kemudian sampah yang sangat banyak sekali,” kata Iskandar.
Rupanya, setelah air surut, perjuangan belum usai. Membersihkan sisa-sisa bencana adalah babak berikutnya.
Artikel Terkait
Cemburu Buta Berujung Pembunuhan, Pelaku dan Komplotan Ditangkap di Jombang
TNI dan Warga Nduga Gotong Royong Evakuasi Jenazah di Landasan Udara Terpencil
Kuasa Hukum Ungkap Hubungan Inara Rusli dan Insanul Fahmi Kini Merenggang
BNI Pastikan Pengembalian Dana Rp28 Miliar Credit Union Aek Nabara pada 22 April 2026