Lebih jauh, Lee bahkan merasa rakyat Korea Selatan layak diajukan untuk penghargaan Nobel Perdamaian. Alasannya? Mereka berhasil mengatasi krisis demokrasi dengan cara-cara damai yang memukau dunia.
Bagi Lee, peristiwa ini dampaknya global. Bukan sekadar urusan dalam negeri. "Seperti dilaporkan banyak media internasional, andaikan demokrasi Korea runtuh saat itu, gelombang kemunduran demokrasi akan menyebar ke seluruh Asia dan dunia," paparnya. Ia lalu mengingatkan, secanggih apa pun hukum dan lembaga yang dibangun, tanpa kesiapan warga untuk menegakkannya, semuanya hanya akan jadi cangkang kosong belaka.
Ia kembali memuji rakyatnya. Momen dimana upaya darurat militer digagalkan dan kekuasaan yang dianggap tidak adil digulingkan secara damai, akan tercatat dalam sejarah demokrasi global.
Di akhir pidato, Lee menyentuh proses hukum yang masih berjalan. Penyidikan dan persidangan terkait upaya pemberontakan serta para pelakunya harus terus berlanjut hingga tuntas.
Kalimat penutupnya itu menggantung, mengingatkan semua pihak bahwa perjalanan belum usai.
Artikel Terkait
Menjaga Jiwa Bangsa: Tantangan Kebangsaan Indonesia di Tengah Arus Zaman
Kubah Masjid: Jejak Akulturasi Islam dan Kearifan Lokal Nusantara
Siap Sambut Imlek 2026, Ini Ucapan Bahasa Inggris yang Tak Biasa untuk Tahun Kuda Api
Isra Mikraj: Cermin Ujian Iman dalam Perjalanan Hidup Manusia