Kelas Menengah Indonesia Berubah: Kualitas dan Kejujuran Jadi Prioritas

- Selasa, 02 Desember 2025 | 19:18 WIB
Kelas Menengah Indonesia Berubah: Kualitas dan Kejujuran Jadi Prioritas

Trend Maker Summit 2025: Kolaborasi dan Wawasan Baru Kelas Menengah

Jimbaran, Bali baru saja menjadi tuan rumah sebuah acara penting: Trend Maker Summit 2025. Acara yang digelar oleh Katadata Indonesia, OMG Consulting, dan Trendwatching ini bukan sekadar forum untuk membahas tren masa depan. Lebih dari itu, acara ini menjadi panggung untuk mengapresiasi perusahaan-perusahaan dalam negeri yang terus berinovasi dan menciptakan nilai baru.

Menurut Ade Wahjudi, Chief Operating Officer Katadata Indonesia, acara ini adalah ruang bersama yang istimewa. Di sini, para pemimpin bisnis, kreator, hingga pembuat kebijakan bisa bertemu, bertukar ide, dan mencari peluang baru.

“Di sini kita merayakan mereka yang sudah memimpin inovasi, sambil mempersiapkan diri untuk kemungkinan baru di depan. Mari kita manfaatkan momen ini untuk memperluas perspektif, memperkuat kreativitas, dan membangun koneksi yang memicu kemajuan yang berarti. Mari kita bekerja sama untuk memastikan bahwa inovasi Indonesia tidak hanya relevan hari ini, tetapi juga mendefinisikan tren di masa depan,” ujar Ade dalam sambutannya, Kamis (27/11).

Di sisi lain, Yoris Sebastian, Pendiri OMG Consulting, punya harapan besar. Melalui summit ini, Indonesia diharapkan bisa belajar dari tren global, lalu mengolahnya menjadi inovasi yang punya makna. Kuncinya? Kolaborasi. Menurutnya, dampak luar biasa hanya bisa lahir ketika semua pihak duduk dalam satu meja yang sama.

“Contoh yang baik adalah QRIS. Bank Indonesia bekerja sama dengan bank-bank milik negara dan bank swasta untuk membangun sistem pembayaran QR yang terpadu. Sistem ini menjadi sangat sukses karena membuat pembayaran digital lebih mudah diakses di negara di mana penggunaan kartu kredit relatif rendah. QRIS berkembang pesat bukan karena BI bertindak sendiri, tetapi karena seluruh ekosistem keuangan bergerak bersama,” jelas Yoris.

Nah, dalam rangkaian acara ini, Katadata Insight Center membeberkan temuan riset yang cukup menarik. Riset tentang perilaku konsumsi kelas menengah Indonesia ini dilakukan bersama OMG Consulting dan Trend Watching. Temuannya mencerminkan pergeseran prioritas yang signifikan di tengah dinamika ekonomi dan gaya hidup yang terus berubah.

Singkatnya, masyarakat kelas menengah kita sekarang ini sudah berbeda. Harga murah bukan lagi faktor utama. Mereka justru lebih mengutamakan kualitas produk yang awet, plus kegunaan dan manfaat tambahan yang jelas.

Fakhridho Susilo, Direktur Eksekutif Katadata Insight Center, memaparkan datanya. Riset bertajuk "Indonesia Middle Class in Motion: Smarter Choice, Wiser Spending" menunjukkan 65,7% responden memilih produk tahan lama ketimbang yang murah. Sementara itu, 55,7% memprioritaskan kegunaan, dan 52,7% melihat manfaat tambahan.

“Angka tersebut menunjukkan bahwa kegunaan lebih diutamakan daripada daya tarik harga. Kelompok SES B menonjol di semua kategori yang menunjukkan penekanan yang lebih kuat pada kegunaan, pertimbangan lingkungan, dan nilai uang dibandingkan dengan kelompok lain. Nilai didasarkan pada apa yang tahan lama dan apa yang berfungsi, kegunaan dan ketahanan mendefinisikan nilai yang dirasakan saat ini,” kata Fakhridho.

Riset ini melibatkan 463 responden berusia 17-59 tahun dari Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan pulau lainnya. Mereka mewakili kelas menengah dengan pengeluaran bulanan Rp2 hingga Rp10 juta per kapita. Menurut Fakhridho, riset ini adalah bagian dari Katadata Indonesia Middle Class Insights (KIMCI) yang rencananya diluncurkan April 2026.

Baginya, kelas menengah Indonesia adalah denyut nadi ekonomi. Mereka segmen terbesar, sekitar dua pertiga populasi, sekaligus mesin pertumbuhan yang tangguh dan adaptif.

“Selama setahun terakhir, mereka menghadapi inflasi, kelebihan digital, dan pergeseran aspirasi, semua hal ini mendorong mereka untuk mempertimbangkan kembali apa yang benar-benar penting: nilai, keseimbangan, dan makna. Saat kelas menengah mendefinisikan ulang cara mereka hidup, berbelanja, dan bercita-cita, mereka juga membentuk kembali seperti apa masa depan Indonesia akan terlihat,” jelasnya.

Pilihan mereka hari ini apa yang dihargai, cara beradaptasi dengan teknologi, upaya menyeimbangkan keberlanjutan dan kenyamanan adalah sinyal awal bagi masa depan ekonomi dan budaya negara.

Ada satu temuan lain yang tak kalah penting. Responden ternyata lebih menghargai merek yang terbuka dan jujur dibandingkan sekadar citra gemerlap. Sekitar 59% memilih transparansi dan kejujuran sebagai indikator utama, diikuti 57% yang memilih produk yang benar-benar memenuhi kebutuhan.

“Tanda-tanda tujuan seperti peduli terhadap isu sosial/lingkungan (37%) dan mendukung komunitas lokal (37%) memperdalam koneksi emosional. Kelompok berpenghasilan tinggi menempatkan makna yang lebih besar pada solusi nyata, tanggung jawab lingkungan, dan narasi yang menginspirasi. Makna tumbuh dari merek yang jujur, berguna, dan benar-benar berkontribusi, bukan yang bergantung pada citra,” pungkas Fakhridho.

Jadi, kelas menengah Indonesia sedang bergerak. Mereka lebih cerdas, lebih bijak, dan lebih kritis. Dan pilihan-pilihan merekalah yang akan membentuk tren riil di negeri ini ke depannya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar