Kondisi geopolitik yang memanas di Timur Tengah ternyata punya dampak yang jauh lebih luas. Menurut Bank Indonesia, perang yang berkecamuk itu semakin memperburuk prospek ekonomi global. Imbasnya? Ruang bagi The Fed untuk memotong suku bunga AS jadi makin sempit.
Harga minyak dan berbagai komoditas lain melonjak tinggi. Tak cuma itu, rantai pasok perdagangan internasional juga kacau balau. Dua hal ini membuat tekanan inflasi global makin sulit dikendalikan.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyoroti hal ini dalam Rapat Dewan Gubernur, Rabu lalu.
"Situasi ini mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter global. Penurunan Fed Funds Rate diprakirakan mundur, atau bahkan bertahan saja hingga akhir 2026," ujar Perry.
Prakiraan pertumbuhan ekonomi dunia untuk 2026 pun direvisi turun, dari 3,1 persen menjadi hanya 3,0 persen. Di sisi lain, inflasi global justru diproyeksi lebih tinggi: 4,2 persen, naik dari perkiraan sebelumnya 4,1 persen.
Gejolak di pasar keuangan global juga terasa jelas. Imbal hasil surat utang AS (US Treasury) terus merangkak naik, didorong oleh kekhawatiran atas defisit fiskal Amerika yang membesar. Aliran modal pun berubah haluan. Investor ramai-ramai mencari aset yang dianggap aman, atau yang sering disebut 'flight to safety', dengan pasar uang AS jadi tujuan utama.
Dampaknya, nilai dolar AS menguat signifikan terhadap mata uang negara-negara maju. Namun sebaliknya, mata uang negara berkembang justru tertekan cukup dalam.
Menghadapi semua ketidakpastian ini, Perry Warjiyo menekankan pentingnya respons yang terkoordinasi.
"Memburuknya perekonomian dan pasar keuangan global mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan. Baik fiskal maupun moneter, harus bersinergi untuk menjaga ketahanan eksternal, memperkuat stabilitas, dan tentu saja mendorong pertumbuhan di dalam negeri," tegasnya.
Jadi, situasinya memang rumit. Ketegangan geopolitik di satu wilayah ternyata punya efek domino yang mampu menggoyang rencana bank sentral terkuat di dunia dan menguji ketahanan ekonomi banyak negara.
Artikel Terkait
Konflik Timur Tengah Picu Gejolak Modal, BI Catat Pemulihan di Kuartal II-2026
Saham Bank Danamon Melonjak 25 Persen, Manajemen Buka Suara soal Rumor Akuisisi MUFG
IHSG Melemah Tipis, Saham COAL Melonjak 34 Persen Pimpin Top Gainers
MMIX Bidik Pendapatan Rp382 Miliar, Pacu Pertumbuhan 90% dengan Andalkan Popok Bayi