Alasannya praktis. Memegang paspor Portugal berarti mendapat kebebasan tinggal dan bekerja di mana saja di Uni Eropa. Biaya hidup yang relatif lebih rendah ketimbang Israel juga jadi daya tarik. Belum lagi akses yang lebih mudah ke universitas-universitas Eropa dengan biaya kuliah yang tak terlalu menguras kantong.
Ada faktor lain yang lebih aktual. Sejak serangan ke Gaza dimulai pada Oktober 2023, minat warga Israel terhadap paspor kedua melonjak drastis. Puluhan ribu dikabarkan telah meninggalkan negara itu. Dan Portugal, tampaknya, jadi salah satu tujuan utama.
Eksodus yang Disebut "Tsunami"
Antrean di kedutaan itu bukan fenomena tunggal. Menurut laporan Forward News, ini bagian dari gelombang tekanan emigrasi yang makin kuat di Israel. Sebuah survean di tahun 2025 mengungkap angka yang mencengangkan: lebih dari 25 persen warga Israel mempertimbangkan untuk hengkang.
Sejak 2022, Israel kehilangan lebih dari 125.000 penduduk daripada yang didapatkannya. Bagi para pejabat, ini bukan gelombang biasa. Mereka menyebutnya "tsunami".
[Gambar: Grafik atau ilustrasi tentang tren emigrasi dari Israel]
Permintaan untuk mengakhiri status kependudukan pada 2024 melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan total periode 2015 hingga 2021. Angka yang sulit diabaikan.
Dalam tulisannya, Sruli Fruchter dari Forward News mencoba menganalisis. Menurutnya, akar masalahnya adalah kekecewaan politik yang mendalam, ketidakpastian ekonomi, dan erosi kepercayaan pada kepemimpinan. Semua itu memuncak pasca serangan 7 Oktober dan perang berkepanjangan yang menyusul.
"Yang mempertimbangkan pergi seringkali adalah kaum muda, sekuler, dan liberal. Justru kelompok yang selama ini jadi tulang punggung ekonomi dan sektor teknologi Israel," tulis Fruchter.
Analisisnya berargumen bahwa polarisasi politik bertahun-tahun, ditambah upaya kontroversial untuk mereformasi sistem peradilan, dan naiknya politisi sayap kanan ekstrem, perlahan-lahan meruntuhkan kepercayaan publik. Ketidakstabilan ekonomi dan perlambatan di sektor teknologi mesin pertumbuhan Israel hanya memperdalam rasa frustrasi itu.
Jadi, antrean panjang di Tel Aviv itu mungkin lebih dari sekadar urusan administratif. Ia adalah gejala dari kegelisahan yang lebih besar, sebuah tanda tanya tentang masa depan yang digambarkan dengan jelas oleh barisan manusia yang tak sabar menunggu pintu kedutaan terbuka.
Artikel Terkait
23 Desa di Kendal Terendam, Ribuan Rumah Tergenang Banjir
Ketika Mesin Pintar, Apakah Kita Masih Benar-Benar Belajar?
Video Pengeroyokan Picu Dua Laporan Hukum di SMKN 3 Berbak
ETLE Genggam Resmi Beraksi, Pelanggar Lalin Jakarta Waspada