Penjelasan resmi menyebutkan luapan sungai akibat hujan berhari-hari. Itu benar. Tapi peta ini menambahkan konteks yang sering luput: di hulu sungai yang sama, setidaknya ada 30 izin tambang mineral dan batu bara yang menguasai lebih dari 132 ribu hektare. Ditambah lagi dengan konsesi kayu dan HTI yang membentang hingga ke pinggiran permukiman warga.
Ambil contoh Linge di Aceh Tengah. Di sana, PT Tusam Hutani Lestari menguasai hampir 100 ribu hektare hutan. Warga setempat sudah lama memprotes. Mereka merasa ruang hidupnya dirampas, hutan adat yang dulu hijau berubah jadi kebun industri pinus.
Dengan demikian, bencana ini sebenarnya bukan sekadar soal cuaca. Ada dimensi lain yang lebih kompleks. Ini juga soal kepemilikan lahan skala raksasa oleh elit politik termasuk seorang presiden yang secara tidak langsung turut menentukan seberapa dahsyat air bah menerjang kampung-kampung di hilir.
JATAM (Jaringan Advokasi Tambang)
[Embed tweet dari akun @jatamnas dengan konten yang sama dengan artikel di atas].
Artikel Terkait
Parkir Darurat Banjir Dihargai Rp1,5 Juta, Mobil Tetap Terendam
23 Desa di Kendal Terendam, Ribuan Rumah Tergenang Banjir
Ketika Mesin Pintar, Apakah Kita Masih Benar-Benar Belajar?
Video Pengeroyokan Picu Dua Laporan Hukum di SMKN 3 Berbak