Hujan masih mengguyur pelan ketika warga Kandy, Sri Lanka, mulai mengais-ngais puing. Mereka mencari apa saja yang bisa diselamatkan barang, kenangan, atau mungkin tanda kehidupan dari reruntuhan rumah yang hancur diterjang longsor. Bencana itu datang tak lama setelah Topan Ditwah melanda, menghantam dataran tinggi dengan angin kencang dan hujan yang tak henti.
Menurut sejumlah saksi, situasinya benar-benar kacau. Tanah bergerak tak terduga, menyapu permukiman dalam sekejap. Korban jiwa terus bertambah, dan angka terbaru yang dikutip dari Reuters sungguh memilukan: 355 orang tewas. Yang mencemaskan, masih ada 366 orang lainnya yang dinyatakan hilang, nasibnya belum jelas.
Di sisi lain, dampak siklon ini ternyata jauh lebih luas. Bukan cuma longsor, tapi juga banjir besar yang turut melumpuhkan wilayah. Kombinasi mematikan ini menjadikan Ditwah salah satu bencana alam paling dahsyat yang pernah dihadapi negara itu.
Presiden Anura Kumara Dissanayake tak menyembunyikan beratnya tantangan ini.
"Ini adalah bencana terbesar dan paling menantang dalam sejarah yang menimpa Sri Lanka," ujarnya.
Pernyataannya menggambarkan betapa dalam luka yang ditinggalkan badai ini. Pencarian korban dan evakuasi masih terus berlangsung, di tengah kepedihan dan tanah yang masih basah.
Artikel Terkait
Kajati Sulsel Setujui Penghentian Penuntutan Anggota Polri Terduga Pelaku KDRT Lewat Keadilan Restoratif
Pistons Kalahkan Cavaliers 111-101 di Game 1 Semifinal Wilayah Timur, Cunningham Cetak 32 Poin
Kisah Ibu di Bone yang Tak Pernah Lelah Berdoa, Kini Anaknya Jadi Menteri Sukseskan Swasembada Beras
Polisi Bekuk Komplotan Pembobol Rumah Lintas Provinsi, Incar Rumah Kosong dengan Ciri Lampu Teras Menyala