Inilah negeri yang mendefinisikan ulang kata "pengabdian" menjadi "dominasi". Di sini, "stabilitas" artinya membungkam suara. "Keamanan" berarti mengamankan harta mereka, bukan hidup rakyat kecil.
Setiap jenderal punya narasi heroiknya sendiri. Operasi ini, pengorbanan itu. Tapi coba tanya, adakah cerita tentang mempertahankan martabat rakyat di medan penderitaan hari ini? Mereka bangga pada kemerdekaan puluhan tahun silam, tapi mereka sendiri jadi penjajah baru. Seolah hanya mereka yang bertarung, padahal rakyatlah yang mempertaruhkan nyawa tanpa catatan, tanpa medali, tanpa nama terpahat di tugu mana pun.
Dan ketika negeri tertatih oleh korupsi dan politik busuk, para jenderal tampil sebagai penyelamat. Padahal merekalah pencipta masalahnya. Mereka jual citra patriotisme seperti komoditas: kampanye, upacara, iklan yang membanjiri ruang publik. Wajah mereka lebih banyak muncul daripada tokoh agama atau ilmuwan. Ingin dikenang sebagai bapak bangsa, padahal cuma bayang-bayang gelap di lorong sejarah.
Pada akhirnya, negeri ini menderita bukan cuma karena dijarah. Tapi karena semua orang dipaksa melupakan bahwa mereka sedang dijarah.
Ketika papan nama jalan menggantikan kejujuran sejarah, ketika patung menggantikan moralitas, maka negeri ini bukan lagi rumah bagi rakyatnya. Ia jadi monumen besar bagi kekuasaan. Museum hidup tempat pengkhianatan dipamerkan. Rakyat cuma penonton yang terkurung di balik pagar "keamanan nasional".
Nanti, generasi baru mungkin akan bertanya: Apakah negeri ini benar-benar pernah merdeka? Atau cuma berganti penjajah dari asing menjadi seragam sendiri?
Itulah tragedinya. Mereka mengaku penjaga, tapi sejarah akan mencatat mereka sebagai penjarah paling brutal yang lahir dari rahim bangsanya sendiri.
Artikel Terkait
Kubah Masjid: Jejak Akulturasi Islam dan Kearifan Lokal Nusantara
Siap Sambut Imlek 2026, Ini Ucapan Bahasa Inggris yang Tak Biasa untuk Tahun Kuda Api
Isra Mikraj: Cermin Ujian Iman dalam Perjalanan Hidup Manusia
Dahlan Iskan dan Gelar yang Tak Pernah Diminta