“Ini cara kami melepas penat,” ujar salah seorang pehobi, sambil matanya tak lepas mengikuti gerak burungnya di angkasa.
“Sekaligus menjaga tradisi yang sudah lama,” tambahnya.
Jadi, di sudut ibu kota yang kerap dianggap muram ini, masih ada tawa, sorak, dan kepakan sayap yang berusaha melawan kesunyian beton. Sebuah pemandangan yang menyegarkan, sekaligus menyiratkan nostalgia akan ruang bernapas yang makin langka.
Artikel Terkait
Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Motor yang Beraksi Puluhan Kali di Makassar dan Gowa
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, Vinícius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral