Paus Leo XIV Desak Pengakuan Kemerdekaan Palestina dalam Lawatan Timur Tengah

- Selasa, 02 Desember 2025 | 09:18 WIB
Paus Leo XIV Desak Pengakuan Kemerdekaan Palestina dalam Lawatan Timur Tengah

Dalam lawatan pertamanya ke Timur Tengah, Paus Leo XIV menyuarakan hal yang bagi banyak orang terdengar mustahil: perdamaian. Dari Turki, ia terbang ke Lebanon, dan di tengah perjalanan itulah, dengan nada yang tenang namun tegas, ia menyampaikan pandangannya tentang konflik yang telah berlarut-larut. Menurutnya, jalan keluar satu-satunya adalah dengan mengakui kemerdekaan Palestina.

“Kita semua tahu bahwa saat ini Israel masih belum menerima solusi tersebut,” ujar Paus, seperti dilaporkan Reuters.

“Tetapi kami melihatnya sebagai satu-satunya solusi,” tambahnya.

Pernyataan itu jelas merujuk pada skenario dua negara, di mana Palestina dan Israel hidup berdampingan. Gagasan ini bukan hal baru, tentu saja. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sudah berkali-kali menolaknya. Yang menarik, penolakan itu tetap ia pertahankan bahkan ketika sekutu terdekat Israel, Amerika Serikat, mulai menunjukkan sinyal dukungan yang samar-samar terhadap kemerdekaan Palestina. Di sisi lain, Paus Leo yang berasal dari AS berusaha menempatkan diri sebagai pihak yang netral. “Kami juga bersahabat dengan Israel dan berusaha menjadi mediator antara kedua pihak,” katanya dalam bahasa Italia, berharap bisa membantu mencapai solusi yang adil bagi semua.

Kaos Kaki Putih di Masjid Biru

Sehari sebelumnya, sebuah pemandangan tidak biasa terlihat di Istanbul. Paus Leo XIV mengunjungi Masjid Biru yang megah. Ia melepas sepatunya, lalu berjalan-jalan di dalam bangunan bersejarah dari abad ke-17 itu hanya dengan mengenakan kaos kaki putih. Ia memandang kubah yang menjulang dan kaligrafi Arab yang ditunjukkan oleh Imam Asgin Tunca.

Langkahnya ini agak berbeda dari pendahulunya. Menurut laporan AP, ketika Imam Tunca mengajaknya untuk berdoa, Paus Leo memilih untuk tidak.

“Ini bukan rumah saya, bukan rumah anda, (tapi) rumah Allah,” kata Imam Tunca kepada sang tamu.

Ia mengaku telah mengajak Paus untuk berdoa. “Tapi dia bilang, 'Tidak apa-apa',” ungkapnya.

“Saya rasa dia ingin melihat masjid, ingin merasakan suasana masjid. Dan dia sangat senang,” lanjut Imam Tunca menggambarkan momen itu.

Desakan Damai di Bawah Bayang-Bayang Serangan

Dari Turki, perjalanan berlanjut ke Lebanon negara yang sedang berada di bawah tekanan. Serangan-serangan Israel kerap terjadi, menciptakan situasi yang mencekam. Di tengah kondisi itulah, Paus Leo mendesak para pemimpin politik di Beirut untuk menjadikan perdamaian sebagai prioritas utama.

Ini adalah hari kedua dari lawatan luar negeri pertamanya sebagai pemimpin Gereja Katolik. Rencananya, ia akan menghabiskan empat hari di Lebanon.

Begitu tiba di Beirut, kerumunan warga sudah menanti di sepanjang jalan dari bandara menuju istana kepresidenan. Kehadirannya jelas dinanti. Di istana, ia bertemu dengan para politisi dan pemuka agama, lalu menyampaikan pidato yang dibuka dengan kutipan dari Yesus Kristus.

“Berbahagialah orang yang membawa damai,” ucap Paus Leo.

Pesan intinya jelas: meski situasi regional sangat kompleks, penuh konflik, dan tidak menentu, Lebanon tidak boleh berhenti berupaya untuk meraih perdamaian. Sebuah seruan yang terdengar sederhana, namun terasa sangat berat untuk diwujudkan di tanah yang telah lama dilanda gejolak.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar