KH Abdul Wahab Ahmad punya tanggapan keras soal pernyataan pejabat terkait kayu gelondongan yang ikut hanyut banjir.
Katanya, kayu-kayu itu bukan hasil tebangan, melainkan kayu lapuk. Nah, bagi sang kiai, pernyataan semacam ini justru menguak dua masalah yang lebih dalam.
Pertama, pejabat sudah terlalu sering berbohong. Sampai-sampai mereka berani bicara seenaknya, melawan fakta yang terpampang nyata di depan mata. Seolah tak ada lagi rasa malu yang tersisa.
Kedua, ada asumsi bahwa masyarakat akan menelan mentah-mentah semua alasan. Bayangkan, air banjir dianggap bisa memotong kayu serapi gergaji mesin, lalu membersihkan akar, dahan, dan rantingnya sebelum kayu itu hanyut. Apa iya?
Artikel Terkait
Khamenei vs Trump: Siapa yang Lebih Rentan Terguling dari Takhta Kekuasaan?
New York Bongkar Jaringan Ekstremis yang Intimidasi Warga Palestina hingga Yahudi Kritis
Kartu Nusuk 2026 Dijanjikan Langsung Dibagikan di Indonesia
Trump Klaim Pembantaian di Iran Berakhir, Nada Ancaman Mendadak Redup