KH Abdul Wahab Ahmad punya tanggapan keras soal pernyataan pejabat terkait kayu gelondongan yang ikut hanyut banjir.
Katanya, kayu-kayu itu bukan hasil tebangan, melainkan kayu lapuk. Nah, bagi sang kiai, pernyataan semacam ini justru menguak dua masalah yang lebih dalam.
Pertama, pejabat sudah terlalu sering berbohong. Sampai-sampai mereka berani bicara seenaknya, melawan fakta yang terpampang nyata di depan mata. Seolah tak ada lagi rasa malu yang tersisa.
Kedua, ada asumsi bahwa masyarakat akan menelan mentah-mentah semua alasan. Bayangkan, air banjir dianggap bisa memotong kayu serapi gergaji mesin, lalu membersihkan akar, dahan, dan rantingnya sebelum kayu itu hanyut. Apa iya?
Artikel Terkait
Jalur Tarutung-Sibolga Masih Terkepung, Normalisasi Butuh Waktu
Malaysia Pionir Bantuan Medis untuk Korban Banjir Aceh
Pasca-Bencana Sumut, Menko PMK Tinjau Langsung Korban dan Rencana Huntara
Duka Banjir dan Pesan Nabi: Saat Menolong Sesama, Allah Pasti Balas dengan Pertolongan