Gaza. Angka-angka itu terus bergerak naik, dan setiap kenaikannya menorehkan luka yang lebih dalam. Perang yang dimulai pada 7 Oktober 2023 itu, menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan pada Selasa lalu, telah merenggut nyawa 69.775 syuhada di Jalur Gaza. Rasanya mustahil untuk membayangkan besarnya angka itu.
Belum lagi mereka yang bertahan dalam penderitaan. Jumlah korban luka-luka juga melonjak drastis, mencapai 170.965 orang. Bisa dibayangkan betapa rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang sudah porak-poranda itu harus menanggung beban yang nyaris tak tertahankan.
Laporan harian dari kementerian itu menyisakan gambaran suram tentang apa yang terjadi di lapangan. Hanya dalam rentang 24 jam terakhir, rumah sakit harus menerima 17 jenazah warga sipil lagi. Ditambah dengan 16 orang lainnya yang masuk dalam kondisi terluka. Setiap hari seperti ini, repetisi nestapa yang tak berkesudahan.
Di sisi lain, ada secercah harapan atau setidaknya, jeda sejenak dengan adanya perjanjian gencatan senjata yang mulai berlaku 10 Oktober 2025. Namun begitu, perdamaian itu ternyata rapuh. Sejak gencatan senjata dicanangkan, setidaknya 345 warga Palestina masih harus meregang nyawa, sementara 889 orang lainnya menderita luka-luka. Konflik ternyata belum benar-benar berhenti.
Artikel Terkait
Puluhan Dapur Makan Bergizi Gratis di Jombang Berhenti Beroperasi Akibat Dana Operasional dari BGN Mandek
Timnas Indonesia Tutup FIFA Matchday Juni 2026 dengan Kemenangan Sempurna, Taklukkan Mozambik 1-0
WNA Singapura Ditemukan Tewas di Apartemen Batam Center, Polisi Selidiki Penyebab Kematian
Timnas Putri Indonesia Ditahan Imbang Kamboja di Laga Penutup FIFA Matchday