Istanbul Harga energi dan pupuk diprediksi bakal bertahan di level tinggi. Peringatan serius ini datang dari tiga lembaga keuangan global: International Energy Agency (IEA), IMF, dan Bank Dunia. Mereka sepakat, kondisi ini bisa berlangsung cukup lama.
Memang, situasi geopolitik global masih suram. Konflik yang berkecamuk terus mengancam stabilitas rantai pasokan komoditas penting dunia. Dampaknya sudah terasa di mana-mana.
Rantai Pasok Rusak, Harga Pun Terangkat
Menurut analisis mereka, harga akan tetap tinggi. Bahkan sekalipun pengiriman lewat Selat Hormuz sudah lancar kembali. Kok bisa? Rantai pasokan yang rusak parah butuh waktu lama untuk diperbaiki. Keterlambatan pemulihan arus komoditas global ini yang bikin semua jadi runyam.
Dampak perang di Timur Tengah dinilai sangat berat. Cakupannya global, tapi efeknya tidak merata. Pernyataan bersama mereka tegas menyebutkan, goncangan ini berdampak asimetris.
“Dampaknya secara tidak proporsional lebih berat bagi importir energi, terutama negara-negara berpenghasilan rendah,” begitu bunyi pernyataan itu.
Guncangan yang Tidak Merata
Guncangan di kawasan itu telah memicu lonjakan harga minyak, gas, hingga pupuk. Di satu sisi, kekhawatiran soal ketahanan pangan dan gelombang penganggaran mengintai. Di sisi lain, beberapa negara produsen di kawasan juga mengalami kerugian besar dari pendapatan ekspornya. Situasinya rumit bagi banyak pihak.
Faktanya, arus pengiriman via Selat Hormuz hingga kini belum normal. Dan kalaupun nanti normal, pemulihan pasokan global komoditas utama ke level sebelum konflik tidak akan instan. Butuh waktu yang mungkin tidak sebentar.
Kekurangan bahan baku penting akibat gangguan pasokan ini berpotensi meluas. Tidak cuma sektor energi, tapi juga merambat ke pangan dan sektor-sektor lain. Belum lagi persoalan pengungsian paksa, lapangan kerja yang lesu, serta sektor pariwisata yang terpukul. Pemulihan untuk semua ini jelas tidak bisa cepat.
Menyikapi hal ini, ketiga lembaga mengaku tengah berkoordinasi ketat.
“Tim kami bekerja sama erat, termasuk di tingkat negara, untuk memanfaatkan keahlian masing-masing. Tujuannya membantu negara-negara melalui saran kebijakan yang disesuaikan dan, tentu saja, dukungan keuangan jika diperlukan,” jelas pernyataan tersebut.
Mereka akan terus memantau dampak perang terhadap pasar energi dan ekonomi global. Pembaruan penilaian akan disampaikan mendatang, bertepatan dengan rilis laporan bulanan IEA dan Prospek Ekonomi Dunia dari IMF.
Artikel Terkait
Bahlil Lahadalia Tegaskan Pentingnya Kekompakan di Musda Golkar Sulut
Netanyahu Tegaskan: Pembubaran Hizbullah Syarat Awal Perdamaian dengan Lebanon
Imigrasi Layani 183 Ribu Permohonan Paspor Haji 2026 dengan Layanan Khusus
Panglima TNI dan Kapolri Hadir dalam Halalbihalal MUI Bahas Perdamaian Dunia