Trump Revisi Draf Kesepakatan dengan Iran, Soroti Transfer Uranium dan Selat Hormuz

- Minggu, 31 Mei 2026 | 12:45 WIB
Trump Revisi Draf Kesepakatan dengan Iran, Soroti Transfer Uranium dan Selat Hormuz

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mendorong perubahan signifikan dalam draf nota kesepahaman dengan Iran, terutama terkait mekanisme transfer uranium yang telah diperkaya dan klausul pembukaan Selat Hormuz. Langkah ini diambil di tengah upaya Washington untuk mencapai kesepakatan final yang dapat mengakhiri ketegangan berkepanjangan dengan Teheran.

Menurut laporan Axios yang mengutip seorang pejabat senior pemerintahan Trump dan sumber lain yang mengetahui masalah tersebut, Trump berjanji akan mengambil keputusan akhir mengenai situasi dengan Iran. Namun, media Amerika itu kemudian melaporkan bahwa belum ada kesepahaman akhir yang tercapai antara kedua belah pihak.

Trump menggelar pengarahan intelijen di Washington pada Jumat, 29 Mei. Dua hari kemudian, The New York Times melaporkan bahwa Trump telah mengajukan persyaratan yang lebih ketat untuk kesepakatan yang mungkin tercapai guna mengakhiri konflik dengan Iran. Proposal baru itu pun telah disampaikan kepada Teheran.

Rancangan kesepakatan saat ini, menurut Axios, mencakup komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Dalam kerangka waktu 60 hari, para pihak diharapkan mencapai perjanjian mengenai program nuklir Iran dan pencabutan sanksi AS. Pokok pembahasan utama meliputi persediaan uranium yang telah diperkaya serta pembatasan terhadap pengayaan lebih lanjut.

Bagian itulah yang ingin diubah Trump.

“Yang diinginkan adalah rincian yang lebih spesifik mengenai bagaimana AS menerima material tersebut (uranium yang diperkaya) dan kapan proses itu dilakukan,” kata seorang pejabat senior pemerintahan Trump kepada Axios.

Sementara itu, sumber lain menyebutkan bahwa Gedung Putih juga ingin merevisi klausul mengenai pembukaan Selat Hormuz. Trump diberi tahu bahwa pihak Iran akan menyampaikan tanggapan dalam waktu sekitar tiga hari, menurut laporan tersebut.

Ketegangan antara AS dan Iran telah meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir. Pada 28 Februari, AS dan Israel mulai melancarkan serangan bersama terhadap sejumlah target di Iran, yang menewaskan lebih dari 3.000 orang. Dua pekan kemudian, pada 8 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama 14 hari dan dilanjutkan dengan pembicaraan di Islamabad, namun berakhir tanpa hasil.

Meskipun tidak ada pengumuman resmi mengenai dimulainya kembali permusuhan, AS mulai memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Langkah ini semakin memperumit prospek diplomasi antara kedua negara yang telah lama berseteru.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar