Andi Azawan Bongkar Metode Analisis Baru untuk Uji Keaslian Ijazah Jokowi

- Rabu, 26 November 2025 | 01:25 WIB
Andi Azawan Bongkar Metode Analisis Baru untuk Uji Keaslian Ijazah Jokowi

Di layar iNews, Selasa malam lalu, Andi Azwan tampil dalam program "Rakyat Bersuara". Ia tak sendirian. Topik yang dibahas panas: keaslian ijazah Jokowi. Sebagai Ketua Umum Jokowi Mania, Andi punya klaim sendiri.

Ia membandingkan hasil penelitiannya dengan temuan pakar telematika Roy Suryo. Menurut Andi, ada perbedaan metode yang cukup signifikan.

"Itu kelihatan (garis merah pada foto Jokowi menggunakan metode fattal). Kedua, (metode) Mantiuk 2006 kelihatan juga," ujarnya tegas.

Andi menyatakan bahwa ia menganalisis ijazah yang diyakininya asli. Sumber yang digunakannya pun berbeda dengan yang dipakai Roy Suryo dan kawan-kawan.

Nah, di sisi lain, dalam penelitian Roy Suryo Cs, kata Andi, garis merah pada foto Jokowi tak terlihat. Penyebabnya? Metode yang digunakan hanya sebatas pencitraan biasa.

"Tidak melihat itu (garis merah) karena menggunakan histogram menggunakan pencitraan saja," tuturnya lagi.

Andi kemudian menjelaskan perbedaan pendekatannya. Kalau Roy Suryo pakai histogram, ia mengaku menggunakan metode Fattal dan Mantiuk. Lebih dari itu, Roy Suryo disebutnya hanya memakai satu pembanding. Sementara dirinya menggunakan dua hingga tiga pembanding untuk analisis yang lebih komprehensif.

"Saya ingin menganalisa juga yang katanya analisis dari Mas Roy Suryo menggunakan histogram. Kita juga menggunakan namanya Fattal dan Mantiuk. Kita kan mencari garis merah tersebut karena menurut Roy Suryo itu di belakang foto, jadi ada turn mapping fattal dan tone mapping Mantiuk," papar Andi.

Ia melanjutkan, "Kalau Roy Suryo itu cuma 1 pembandingnya, kalau kita punya 2-3 pembanding tuk menjelaskan apa yang kita lakukan. Kalau histogram itu secara namanya statistik, biasanya hitam di histogram itu itu menutupi mata yang lain, warna yang lain itu tertutup."

Jadi begitulah. Dua analisis, dua klaim, dua metode yang berbeda. Hasilnya? Tentu saja berbeda pula.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar