Jeruji Besi Menanti: Kasus Ijazah Palsu yang Ancam Akhiri Karier Jokowi

- Selasa, 25 November 2025 | 05:00 WIB
Jeruji Besi Menanti: Kasus Ijazah Palsu yang Ancam Akhiri Karier Jokowi

Jokowi Bakal Jadi Presiden Pertama yang Masuk Bui?

Oleh: M Rizal Fadillah

Kasus ijazah palsu yang menjerat Jokowi ternyata tak sesederhana kelihatannya. Polda Metro Jaya, yang awalnya bersikap hati-hati, tiba-tiba saja menetapkan delapan orang sebagai tersangka. Langkah ini terkesan prematur dan justru memantik tanda tanya besar. Ada apa sebenarnya? Banyak yang menduga, langkah polisi ini justru menunjukkan kekalutan di tingkat kekuasaan. Mereka seperti panik, dan tekanan politik diduga kuat berada di balik semua ini.

Padahal, kasus yang semestinya bisa ditangani dengan lugas ini malah berbelit dan mendunia. Jalan yang diambil justru berpotensi memukul balik Polda, dan tentu saja, sang Presiden sendiri. Jokowi, yang kerap disebut sebagai "raja", kini justru terancam harus merasakan dinginnya jeruji besi. Untuk lolos dari situasi sulit ini, dia terpaksa bersilat lidah. Tapi bukankah itu sudah jadi modus operandi selama ini?

Menurut sejumlah saksi, delapan tersangka itu seolah dibentuk dari sebuah desain pelemahan yang sistematis. Ketakutan pelaku kejahatan terasa makin menguat. Kepalsuan yang selama ini tersembunyi perlahan tapi pasti mulai terkuak. Aneh memang, punya pemimpin yang dari ijazah sampai penampilannya dipertanyakan keasliannya.

Di sisi lain, kekuatan dari kedelapan tersangka ini harus benar-benar solid. Mereka perlu bergerak bersama untuk mendobrak kejumudan yang ada. Polarisasi adalah musuh bersama. Pembagian klaster oleh Polda jangan sampai malah memicu ego sektoral atau pertikaian internal. Kalau sampai terjadi, yang ada malah konflik dan perpecahan.

Bersama elemen masyarakat cerdas lainnya, perjuangan untuk membongkar dusta Jokowi selama ini harus terus bergulir.

Analisis terbaru memprediksi, sangat realistis Jokowi akan menjadi mantan presiden pertama yang menghabiskan masa tuanya di penjara. Falsafah Jawa "mikul duwur mendem jero" tampaknya tak berlaku untuknya. Kerugian negara yang ditimbulkannya dan keluarganya terlalu besar. Dosa politiknya pun terasa sulit untuk diampuni.

Meski masih ada yang histeris meneriakkan nama Jokowi, teriakan itu lama-lama akan hilang ditelan realita pahit.

Aksi nyata dimulai dari semangat "one for all, all for one" delapan tersangka itu. Mereka adalah gabungan dari tokoh masyarakat, ulama, aktivis, akademisi, mahasiswa, jurnalis, buruh, dan ibu-ibu yang menolak kezaliman dan kemunafikan. Gerakan untuk menghukum Jokowi dan para penjahat negeri kian masif. Dan, seperti kata pepatah, tidak ada kebohongan yang abadi.

Dari kasus ijazah palsu, terbentang rentetan masalah lain: nepotisme, korupsi, hingga pelanggaran HAM. Bayang-bayang dosa dan pengkhianatan terhadap amanat rakyat terus membuntutinya. Ijazah palsu itu bagai pukulan pertama yang menyakitkan, membuatnya menjerit. Penyesalan pun datang. Tapi, ya, sesal itu sudah tak ada gunanya lagi. Sama sekali.

") Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Bandung, 25 November 2025

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar