“Jadi dengan demikian ini nanti kalau berhasil akan menjadi model,”
Kata Gus Ipul.
Tahun ini, program rintisan sudah menampung hampir 16 ribu siswa. Targetnya melonjak jadi 40 ribu siswa di 2026, lalu di atas 100 ribu di 2027, dan bahkan melampaui 200 ribu di tahun berikutnya. Harapan presiden, setiap kabupaten/kota punya setidaknya satu Sekolah Rakyat.
“Harapan presiden setiap kabupaten/ kota memiliki satu Sekolah Rakyat dengan kapasitas seribu siswa SD, SMP, SMA. Kalau sampai ada 500 sekolah permanen maka bisa menampung 5 ribu atau 500 ribu siswa lebih,”
Ucapnya.
Di sisi lain, Gus Ipul menegaskan bahwa tujuan akhir program ini bukan sekadar meluluskan anak. Lebih dari itu, mendorong seluruh keluarganya naik kelas secara ekonomi sehingga tidak lagi bergantung pada bantuan sosial.
“Intinya anaknya lulus keluarganya naik kelas, sudah tidak boleh terima bansos lagi, jadi bareng ini. Ini inovasi dan satu paradigma baru yang terintegrasi di era Bapak Presiden Prabowo,”
Jelasnya lagi.
Di akhir paparannya, Gus Ipul mengajak seluruh peserta untuk memimpin perubahan dengan memahami paradigma baru pembangunan sosial. Kementerian Sosial, katanya, sedang berupaya membentuk cara pandang baru di masyarakat.
“Kita sedang bekerja bagaimana kita merupakan mindset publik, bahwa bansos sementara, berdaya selamanya,”
Tegasnya.
Penutupnya, ia mengajak para birokrat dari berbagai instansi untuk bersatu dan bergerak bersama mengentaskan kemiskinan.
“Kemiskinan adalah isu yang menyatukan tanggung jawab. Birokrasi harus menjadi bahasa pemersatu, transformasi tidak terjadi di podium, tetapi terjadi di lapangan dan kepemimpinan birokrasi adalah penggeraknya,”
Demikian Gus Ipul menutup paparannya, meninggalkan pesan yang dalam di ruang seminar itu.
Artikel Terkait
Gesekan PSI-Demokrat Terbuka, Ade Armando Tuding Roy Suryo Dijalankan Partai
Kemenkes Buka Pintu Donasi Alkes untuk Korban Bencana Sumatera
KPK Sita Rp 6 Miliar dalam OTT Pajak, Libatkan Perusahaan Tambang
Pascabencana Aceh, 2.756 Sekolah Terluka, 90 Persen Kembali Belajar