Inisiatif Damai Prabowo di Gaza Diapresiasi Menag, Disebut Langkah Cerdas dan Berani

- Senin, 24 November 2025 | 19:24 WIB
Inisiatif Damai Prabowo di Gaza Diapresiasi Menag, Disebut Langkah Cerdas dan Berani

Di tengah hiruk-pikuk konflik yang tak kunjung reda di Gaza, solusi yang diusung Presiden Prabowo Subianto menuai pujian. Menteri Agama Nasaruddin Umar tak ragu menyebut langkah itu cerdas sekaligus berani.

Dalam sebuah seminar internasional di UIN Sumatera Utara, Medan, Senin lalu, Menag menyampaikan apresiasinya.

"Solusi yang ditawarkan Bapak Presiden tentang kasus di Timur Tengah, terutama masalah Israel dan Palestina, adalah solusi yang dipandang oleh dunia sebagai solusi yang sangat cerdas,"

ujar Nasaruddin.

"Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan oleh Bapak Prabowo menggugah semua pihak dan menciptakan sesuatu hal yang sangat positif,"

sambungnya.

Gagasan yang dimaksud tak lain adalah two-state solution sebuah konsep yang selama ini kerap didengungkan Prabowo. Intinya sederhana: dua negara merdeka, Israel dan Palestina, hidup berdampingan secara damai. Tapi konsep yang sudah lama ada ini mendapat warna baru.

Yang menarik, ide Prabowo ternyata tak berhenti di situ. Ada rencana konkret untuk mengirim pasukan perdamaian ke Gaza. Langkah ini disebutnya sebagai sesuatu yang belum dilakukan negara lain.

"Itu negara lain belum ada seperti itu. Maka itu Presiden Amerika dan kepala-kepala negara Timur Tengah memberikan apresiasi terhadap gagasan Pak Prabowo. Langkah yang sangat berani, langkah yang sangat tepat,"

tegasnya.

Nasaruddin juga menyoroti visi presiden yang melihat jauh ke depan. Tak cuma menghentikan perang, tapi juga memikirkan masa sesudahnya.

"Pak Prabowo memikirkan apa kelanjutan daripada perdamaian. Siapa yang akan membangun bangunan yang roboh, siapa yang akan menyekolahkan anak-anak itu jumlahnya jutaan, siapa yang akan memberikan solusi ekonomi terhadap mereka,"

tuturnya.

Memang, Indonesia berniat mengirimkan pasukan perdamaian ke Gaza jika dapat mandat dari PBB. Hanya saja, sejauh ini yang dibicarakan lebih ke arah bantuan kesehatan dan rekonstruksi bukan pasukan penjaga perdamaian bersenjata. Meski begitu, langkah ini tetap dianggap sebagai terobosan di tengah kebuntuan yang berkepanjangan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar