Pasar keuangan global diprediksi bakal berguncang hebat dalam sepekan mendatang. Pengamat Ibrahim Assuaibi memproyeksikan fluktuasi yang cukup tajam, dengan rupiah yang masih akan terus tertekan menghadapi dolar AS. Di sisi lain, arah harga komoditas, terutama minyak dan emas, sangat bergantung pada apa yang terjadi di Timur Tengah. Situasinya memang rumit.
Berdasarkan analisis teknikal, Ibrahim mencatat Indeks Dolar AS berpotensi melebar rentang perdagangannya. Level dukungan ada di posisi 97,00, sementara resisten mengintai di 100,90.
"Dalam perdagangan satu pekan ke depan, kemungkinan besar ini akan melebar. Ada kemungkinan besar range-nya itu melebar di 97,00 dan 101,00,"
jelasnya dalam riset yang dirilis Minggu (12/4/2026).
Nah, seiring penguatan dolar itu, rupiah diprediksi masih akan merana. Ibrahim memperkirakan mata uang kita bertahan di level yang cukup lemah, bahkan berpeluang melewati angka psikologis.
"Pelemahan mata uang rupiah kemungkinan masih akan bertahan di atas level 17.000. Itu untuk rupiah,"
tambahnya. Tekanannya nyata.
Fokus pasar kini tertuju pada satu hal: perundingan AS-Iran yang difasilitasi Pakistan. Menurut Ibrahim, dari sini bakal muncul dua skenario ekstrem dengan dampak yang berlawanan. Jika gencatan senjata dua minggu bisa tercapai, harga minyak berpeluang turun. Inflasi pun bisa mereda. Situasi ini membuka jalan bagi The Fed untuk memotong suku bunga, yang otomatis jadi angin segar buat harga emas.
Tapi kalau negosiasi gagal? Skenarionya suram. Potensi perang terbuka di Terusan Suez dan penutupan Selat Hormuz oleh Iran bukan lagi omong kosong. Dampaknya langsung: harga minyak mentah dan emas bisa melonjak bersama-sama.
"Kalau perangnya masih menggunakan misil, kemudian Iran masih menutup Selat Hormuz, ini akan membuat transportasi minyak tersendat sehingga harga minyak naik, dolar menguat, dan berdampak terhadap inflasi," kata Ibrahim.
Ketegangan tak cuma datang dari sana. Intelijen AS baru-baru ini mendeteksi pengiriman persenjataan dari China ke Iran. Trump langsung mengecam, memicu semacam 'perang urat saraf' antara dua raksasa ekonomi dunia. Kondisi seperti ini, menurut Assuaibi, cuma akan mendongkrak harga logam mulia lebih tinggi lagi.
Di internal AS sendiri, ada perkembangan menarik. Penunjukan Christopher Waller atau 'Captain Walls' sebagai Gubernur The Fed yang baru di era Trump memberi sinyal tersendiri bagi pasar.
"Keputusan Trump untuk memilih Kapten Walls berarti sudah ada kerja sama dengan Trump untuk menurunkan suku bunga. Sehingga ini berdampak positif terhadap kenaikan harga emas dunia dan logam mulia,"
ungkap Ibrahim.
Ada fenomena lain yang juga ia soroti. Bank-bank sentral di berbagai negara mulai ramai-ramai memburu logam mulia sebagai cadangan devisa alternatif. Pemicunya? Persepsi bahwa 'Perang Dunia Ketiga' secara faktual sudah berjalan, dengan negara-negara besar terlibat langsung. Kondisi ini memicu masalah ekonomi global yang serius, salah satu tandanya adalah kenaikan harga BBM yang sudah dirasakan dari Amerika sampai Asia. Suasana memang sedang tidak menentu.
Artikel Terkait
Merck Bagikan Dividen Rp123,2 Miliar, Laba Melonjak 59 Persen Sepanjang 2025
Wall Street Menguat di Awal Perdagangan, Optimisme AI dan Harapan Damai AS-Iran Jadi Pendorong
PT Segar Kumala Indonesia Alihkan Transaksi Impor ke Yuan China untuk Tekan Dampak Pelemahan Rupiah
Citra Tubindo Bagikan Dividen 21,78 Juta Dolar AS ke Pemegang Saham