Di kios permak pakaian dan sol sepatu di Jalan Jeruk, Jagakarsa, suasana Senin (24/11) pagi tampak sibuk. Agus, dengan kepala tertunduk, asyik menjahit sebuah celana. Jarum dan benangnya bergerak lincah. Di sudut lain, beberapa rekannya sibuk mereparasi sepatu dan menyelesaikan pesanan permak warga.
Rupanya, profesi ini sudah mereka geluti sejak awal tahun 2000-an. Mereka berjumlah sepuluh orang, semuanya berasal dari Jawa Barat, yang memutuskan untuk mengadu nasib di Ibu Kota.
“Lagian konsumen sudah tahu lapak kita di sini, jadi tinggal tunggu aja,”
ucap salah satu pekerja sambil tersenyum. Dalam sehari, tiap orang bisa menangani 10 sampai 15 pesanan. Mulai dari mengganti sol sepatu hingga memperbaiki pakaian yang sobek. Tidak semua hasilnya masuk ke kantong mereka sendiri. Sebagian pendapatan harus disetorkan ke pemilik lapak sebagai biaya tempat.
Namun begitu, mereka merasa jauh lebih aman bekerja bersama di sini ketimbang membuka usaha sendiri. Ruangnya memang terbatas, tapi sistem yang sudah berjalan puluhan tahun ini memberi rasa tenang.
Di sisi lain, risiko usaha mandiri dinilai cukup besar. Mulai dari urusan keamanan lokasi hingga susah payah mencari pelanggan baru. Itulah mengapa, bagi mereka, bekerja berkelompok di lapak ini tetap menjadi pilihan yang paling masuk akal dan menguntungkan.
Artikel Terkait
BMKG Prediksi Cuaca Cerah Berawan di Makassar Sepanjang 18 April 2026
Diskominfo Tebing Tinggi Digeledah Polda Sumut Usai OTT Pejabat
Masyarakat Sipil Temui KWI, Soroti Krisis Moral dan Hukum dalam Tata Kelola Negara
Unpad Nonaktifkan Guru Besar Diduga Lakukan Kekerasan Seksual terhadap Mahasiswi Asing