Ratih Kumala, penulis novel dan skenario yang karyanya seperti "Gadis Kretek" sudah diadaptasi Netflix, ternyata punya cerita menarik di balik novel terbarunya. Novel berjudul "Koloni" yang diluncurkan Agustus lalu itu, awalnya sama sekali bukan cerita tentang semut. Proses kreatifnya berliku, bahkan sempat mandek di tengah jalan.
“Cita-citanya sih pengen nulis historical fiction,” aku Ratih dalam perbincangan pada Rabu, 19 November 2025. Tapi niat itu urung dilanjutkan. Setelah sekitar 20-30% draf selesai, ia memutuskan berhenti. “Tulisannya penuh dengan kemarahan,” ujarnya menjelaskan alasannya.
Kekesalan itulah yang justru menjadi pemicu. Dorongan untuk menulis "Koloni" berawal dari rasa frustrasinya menyaksikan kondisi politik Indonesia di tahun 2024. “Aku merasa harus menuliskan tentang itu,” tuturnya. Kala itu, judulnya belum "Koloni" dan karakternya masih manusia biasa.
Namun begitu, draf pertama yang sarat amarah itu akhirnya ia simpan. Ratih memilih untuk mendiamkannya sebentar, memberi jarak. “Setelah diendapkan, aku sadar cerita ini tetap harus kutulis. Tapi aku butuh bentuk baru, bentuk yang lebih menyenangkan,” papar perempuan yang juga menulis skenario film "Satu Imam Dua Makmum" ini.
Lalu, inspirasi pun datang dari sebuah memori. Ia teringat masa-masa bekerja di sebuah gedung tinggi. Dari atas, ia memperhatikan kerumunan orang yang pulang kerja. Mereka berkerumun, bergerak beriringan, bagaikan... koloni semut.
“Jadilah muncul ide,” kenangnya. “Gimana kalau cerita yang sama ini aku tulis ulang, tapi dengan universe dan karakter yang benar-benar beda? Yaitu dunia semut.” Dan jadilah "Koloni" seperti yang kita kenal sekarang.
Atmosfer yang Berbeda
Dibandingkan dengan "Gadis Kretek" yang kental nuansa sejarahnya, "Koloni" menawarkan pengalaman membaca yang jauh berbeda. Ratih menggambarkannya punya vibe seperti dongeng. Pembaca akan dibawa ke atmosfer yang lebih imajinatif dan penuh metafora.
Yang mengejutkan, proses riset untuk dunia semut ini justru berjalan menyenangkan. Awalnya Ratih mengira akan kesulitan, tapi ternyata tidak. “Studi tentang semut sangat mudah ditemukan di internet. Mereka punya komunitasnya sendiri dan informasinya bertebaran,” ujarnya sambil tertanda lega. Di sela-sela itu, ia juga sedang mempersiapkan buku non-fiksi tentang penulisan yang rencananya terbit tahun depan.
Melalui "Koloni", Ratih punya harapan besar. Ia ingin pembacanya menjadi manusia yang kritis, dan berani menyampaikan kritik dengan caranya masing-masing. “Bahkan dengan cara yang paling main-main sekalipun, bisa kok,” tegasnya. “Koloni ini adalah bentuk aku bermain-main, sekaligus menyampaikan hal-hal kritis tentang isu yang kupedulikan.”
Artikel Terkait
Pemerintah Papua Selatan Yakin PSN Wanam Dorong Ekonomi dan Serap Ribuan Tenaga Kerja Lokal
Lima Negara Kandidat Terkuat Juara Piala Dunia 2026, Tradisi Pelatih Lokal Jadi Pegangan
Cristiano Ronaldo Borong Peluang Emas, Portugal Tetap Kalahkan Nigeria 2-1
BMKG: Puncak Musim Kemarau 2026 Diprediksi Terjadi pada Agustus, 48,84 Persen Wilayah Indonesia Terdampak