Di Balik Penerbangan Pulang Gibran, Peringatan Keras Soal Dominasi AI di KTT G20

- Senin, 24 November 2025 | 10:06 WIB
Di Balik Penerbangan Pulang Gibran, Peringatan Keras Soal Dominasi AI di KTT G20

Pesawat yang membawa Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka akhirnya mendarat di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Senin pagi (24/11) pukul 09.45 WIB. Kepulangannya ini menandai akhir dari perjalanan dinasnya menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Johannesburg, Afrika Selatan.

Rombongan terbatasnya sendiri sudah berangkat dari Bandara O.R. Tambo, Johannesburg, sejak Minggu sore (23/11) pukul 17.30 waktu setempat. Perjalanan panjang itu akhirnya berakhir dengan mulus di tanah air.

Selama di sana, jadwal Gibran terbilang padat. Selain mengikuti serangkaian pertemuan inti KTT, ia juga menyempatkan diri untuk melakukan sejumlah pertemuan bilateral dengan beberapa kepala negara. Agendanya benar-benar penuh.

Di sisi lain, ada satu momen yang cukup menonjol. Pada pidato penutupan KTT, Gibran angkat bicara soal masa depan teknologi kecerdasan buatan atau AI. Dengan nada tegas, ia menyatakan bahwa teknologi ini akan menjadi penentu utama kekuatan ekonomi global untuk dekade-dekade yang akan datang.

"AI akan menentukan kekuatan ekonomi selama beberapa dekade mendatang,"

Namun begitu, ia tidak menutup mata terhadap realitas yang ada. Gibran secara khusus menyoroti ketimpangan yang mengkhawatirkan. Manfaat AI, saat ini, masih terpusat dan dikuasai oleh segelintir perusahaan raksasa dari negara-negara maju saja.

"Namun saat ini, manfaatnya masih sangat timpang, terkonsentrasi di segelintir perusahaan dari beberapa negara maju. Jika ketidakseimbangan ini berlanjut, kesenjangan digital akan semakin dalam,"

Ia pun mengingatkan semua pihak. Menurutnya, revolusi teknologi yang sedang berlangsung ini tidak boleh mengulangi kesalahan dan ketidakadilan yang terjadi di masa revolusi industri sebelumnya. Ia mendesak agar forum G20 memainkan peran sentjal.

"Kali ini, kita harus berbuat lebih baik. Revolusi ini harus adil dan harus bermanfaat bagi rakyat. G20 harus memastikan bahwa AI menjadi kekuatan untuk inklusi,"

Pesan itu disampaikannya dengan harapan agar kemajuan teknologi bisa benar-benar dirasakan oleh semua, bukan hanya segelintir orang. Sebuah harapan yang, mari kita akui, cukup berat untuk diwujudkan.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar