Gus Yahya Berkeras di Pucuk PBNU Meski Didesak Mundur

- Senin, 24 November 2025 | 06:40 WIB
Gus Yahya Berkeras di Pucuk PBNU Meski Didesak Mundur

Suasana di tubuh PBNU sedang tidak karuan. Di tengah desakan Rais Aam yang memberi waktu tiga hari untuk mundur atau dipecat, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf justru bersikukuh. Mundur? Katanya, sama sekali tak terpikir.

"Sama sekali tidak pernah terbesit dalam pikiran saya untuk mundur dari Ketua Umum PBNU," tulis Yahya Cholil Staquf di akun X-nya, Minggu (23/11/2025).

Ia menegaskan mandat yang diembannya adalah untuk lima tahun. "Karena itu akan saya jalani selama 5 tahun, insyā Allāh saya sanggup," ujar pria yang tak lain adalah kakak dari mantan Menag Yaqut Cholil Qoumas itu.

Yang menarik, Gus Yahya sapaan akrabnya langsung menohok soal kewenangan. Menurutnya, Syuriah PBNU tidak punya hak untuk memberhentikan Ketua Umum.

"Terkait edaran Risalah Harian Syuriah PBNU yang akan memundurkan Ketua Umum, saya tandaskan, menurut konstitusi AD/ART tidak berwenang untuk memberhentikan Ketua Umum," tegasnya.

Namun begitu, postingannya itu justru memantik reaksi keras warganet. Komentar-komentar pedas bertebaran, hampir semuanya bernada negatif.

Akun @TaryokoL, misalnya, membagikan tangkapan layar pernyataan Yahya sambil menyelipkan kritik pedas. "Gak politisi, gak ulama…kl berkaitan dgn kekuasaan, ya hipokrit semua. Esok dele sore tempe. Menjijikkan!" tulisnya.

Tak kalah keras, akun @samhugget yang menggunakan nama Gus Mukidi ikut nimbrung. "Dasar zionis pesek," timpalnya singkat.

Sementara itu, @RamaAdamfaathir menyorot hubungan keluarga. "Adek kakak sama2 maling dan sama2 gak punya malu," tulisnya disertai tangkapan layar yang memperlihatkan Gus Yahya dan Yaqut.

Gelombang protes di dunia maya ini seakan menjadi cermin betapa panasnya situasi yang sedang terjadi. Di satu sisi, ada ketegangan struktural antara Syuriah dan Tanfidziyah. Di sisi lain, opini publik ikut memanas lewat unggahan-unggahan yang viral.

Yang jelas, Gus Yahya tampaknya tak gentar. Dengan lantang ia menolak hengkang dari kursi ketum. Tapi, apakah sikapnya ini akan meredakan badai atau justru menambah runyam persoalan? Waktulah yang akan menjawab.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar