Khalil Abu Hatab, saksi mata di Deir al-Balah, menggambarkan kepanikan saat itu. "Tiba-tiba, saya mendengar ledakan dahsyat. Saya lihat ke luar, asap sudah menutupi seluruh area. Saya tidak bisa melihat apa-apa," kenangnya.
"Saya tutup telinga dan berteriak pada yang lain di tenda untuk lari. Ketika saya melihat lagi, lantai atas rumah tetangga saya sudah lenyap."
Dia kemudian menambahkan dengan nada getir, "Ini gencatan senjata yang rapuh. Ini bukan kehidupan yang bisa kita jalani. Tidak ada tempat yang aman."
Di tengah laporan-laporan korban jiwa ini, muncul kecaman keras dari berbagai pihak. Seorang pengguna Twitter dengan akun @ZacksJerryRig menulis secara blak-blakan: "Israel adalah negara teroris."
Kenyataannya, situasi di tanah Gaza memang semakin tidak menentu. Warga yang sudah hidup dalam ketakutan bertahun-tahun kini harus kembali menghadapi kenyataan pahit: bahwa rasa aman masih menjadi barang mewah yang sulit mereka dapatkan.
Artikel Terkait
Prabowo Serahkan Bonus Rp 456 Miliar, Pesan Khusus untuk Atlet SEA Games
Dari Gilgamesh ke Amazon: Kisah Abadi Manusia dan Kutukan Hutan
iShowSpeed Bicara Gaza: Bebaskan Palestina, Aku Akan Bantu
Ironi di Panggung Komedi: Ketika Tawa Berujung Laporan Polisi